Puncak Slamet, Puncak Tertinggi Jawa Tengah

CIMG3869

Puncak Slamet 3428Mdpl merupakan puncak tertinggi di Jawa Tengah. Salah satu atribut dari 3S yaitu Sumbing, Sindoro, dan Slamet ini terletak di 3 Kabupaten di Jawa Tengah, yaiitu Purbalingga, Baturraden, dan Purwokerto. Gunung Slamet memiliki dua jalur pendakian, yaitu jalur Bambangan dan Guci. Jalur Bambangan terletak di Kabupaten Purbalingga, kurang lebih sekitar satu jam perjalanan dari Kota Purbalingga. Puncak Gunung Slamet berada di koordinat 7°14′30″LS,109°12′30″BT.

Jalur yang kami gunakan adalah jalur Bambangan, karena jalur ini merupakan jalur teraman untuk pendaki. Bisa dikatakan aman karena jalur pendakian jarang bahkan bisa dikatakan tidak ada percabangan hingga pos terakhir sebelum puncak. Di basecamp ini juga terdapat tempat istirahat yang cukup luas dan ada banyak warung yang menyediakan makanan. Jalur pendakian Bambangan memiliki pemandangan landscape yang sedikit, karena sepanjang perjalanan melalui hutan dengan kerapatan tinggi. Bisa dikatakan pemandangan hanya berupa semak dan akar pohon.

Jalur Bambangan

Jalur Bambangan

Jum’at, 19 April 2013

Hari ini adalah jadual keberangkatan Saya dan teman-teman ke Gunung Slamet Jawa Tengah. Menjadi salah satu target gunung yang harus didaki di tahun 2013 sebelem Gunung Semeru. Seperti biasa, kami memiliki lokasi meeting point di kontrakan keluarga cemara yang terletak tidak terlalu jauh dari kampus. Dari sini Saya berkumpul dan berangkat sekitar jam 17:00 waktu setempat bersama 15 teman yang lain.

Kondisi langit yang berawan hitam tebal menyelimuti keberangkatan kami dari kontrakan. Mampir isi bensin disalah satu POM yang berada di jalan Kaliurang. Ketika itu pula hujan deras disertai angin turun membasahai Jogja. Sedikit menurunkan semangat memang, tapi tekat untuk bertemu dan menginjakan kaki di Puncak Gunung Slamet lebih besar.

Kami mulai mengenakan jas hujan dan menyingsingkan celana kemudian langsung tancap gas menuju Magelang terlebih dahulu. Jam 19:00 di Magelang, kami mampir sejenak diwarung milik keluarga salah satu teman kami. Sedikit isi perut dengan membeli roti dan minuman kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Kurang lebih sekitar jam 21:00 tibalah kami disebuah desa dengan kondisi hujan, gelap dan jalanan naik-turun.  Disitulah salah satu ban motor rekan kami mengalami kebocoran. Sebagian dari kami berteduh ditempat cuci mobil yang kebetulan sudah tutup dan yang lain pergi ketempat tambal ban.

Perjalanan dilanjutkan kembali dengan kondisi jalan yang semakin jauh semakin rusak. Musuh dijalanan kami malam ini adalah truk berisi pasir dan sedikit mobil pribadi. Kondisi jalan yang sangat rusak sehingga dapat diibaratkan seperti “kali asat” atau dalam bahasa Indonesianya adalah “sungai kering”. Selalu berjumpa lubang disetiap jarak 1 meter dengan kubangan air berwarna coklat didalamnya. Kondisi seperti ini menyita banyak waktu perjalanan dan menurunkan kondisi fisik kami.

Setelah melewati kota Wonosobo, kami berhenti disalah satu warung makan yang menyediakan nasi rames dan nasi goreng. Yang sudah sangat lapar langsung memesan nasi telur dan yang ngantuk langsung pesan kopi panas. Kondisi sudah cukup pulih, perjalanan kembali dilanjutkan menuju kota Purbalingga.

Sabtu, 20 April 2013

Sekitar jam 02:00 kami tiba di Kota Purbalingga, tepatnya di alun-alun Purbalingga. Berhenti didepan ATM BNI disebelah timur alun-alun untuk mengambil beberapa receh yang ada di mesin ATM. Lanjut perjalanan kami ke kediaman salah satu rekan kami, namanya adalah Fajar. Kami sampai dirumah milik keluarga Fajar sekitar jam 02:30. Langsung disediakan karpet untuk beristirahat. Lumayan, kali ini dapat kesempatan untuk tidur dikasur. Kami memanfaatkan moment ini untuk benar-benar istirahat, karena nanti siang sudah harus nanjak.

Sekitar jam 07:00 kami semua bangun dan bersiap-siap packing tas carrier. Membeli kebutuhan terlebih dahulu berupa minum dan bekal makan lainya. Sekitar jam 09:00 kami disiapkan makan oleh keluarganya Fajar. Sarapan dengan menu yang begitu enak dan gratis menjadi penyemangat perjalanan kami. Setelah makan kami tidak langsung pergi, sedikit bertanggungjawab untuk membersihkan lokasi tidur kami dan membereskannya.

foto bareng didepan rumah Fajar

foto bareng didepan rumah Fajar

Setelah semua lokasi bekas tidur kami sudah rapi kembali, kini saatnya berpamitan dengan pemilik rumah yang sudah menyediakan berbagai macam bantuan. Jam 10:00 kami berangkat dari sini menuju basecamp Bambangan. Perjalanan masih cukup jauh, kurang lebih 2 jam untuk sampai di basecamp Bambangan dari sini. Isi bensin dulu sebelum melakukan perjalanan dan penanjakan yang jauh. Perjalanan diwarnai dengan tidak kuatnya motor revo yang Saya gunakan untuk nanjak, padahal sudah hampir sampai di basecamp.

Tapi akhirnya sampai juga dibasecamp Bambangan jam 12:00 waktu setempat. Cuaca cukup cerah dengan awan tipis menyelubungi lagit biru. Bersantai, makan, tidur, bayar biaya administrasi dan sholat lah yang harus kami lakukan sekarang. Sambil menunggu kondisi badan siap untuk mulai penanjakan, repacking dulu barang bawaannya. Setelah semuanya siap, sekitar jam 13:00 kami mulai melakukan penanjakan.

Diawali dengan melewati gapura jalur pendakian bambangan, kemudian dilanjutkan melewati kebun sayuran milik warga sekitar. Berat sudah mulai tercium dari awal perjalanan kita, kondisi jalan yang naik terus tanpa ada bonus membuat paru-paru bekerja lebih keras. Pemandangan sekitar yang menunjukan topografi berbukit-bukit terlihat jelas. Sayuran yang ditanam warga terlihat seperti barisan tentara.

Berhenti pada sebuah lapangan yang cukup luas dengan atribut tong sampah. Berdoa untuk mengawali penanjakan Gunung Slamet dimulai dengan sikap serius. Setelah berdoa kami melanjutkan perjalanan. Tidak berselang lama kami bertemu dengan rombongan yang beranggotakan 5 laki-laki paruh baya sedang beristirahat. Kami berhenti sebentar sekedar untuk basa-basi dan duduk sejenak.

tong sampah sampe tumpe-tumpe

tong sampah sampe tumpe-tumpe

Perjalanan dilanjutkan dengan menatap medan yang tidak ada datarnya sama sekali. Cuaca mulai mendung tipis tanpa angin tetapi tetap dingin. Akhirnya sampailah kami di POS 1 yang berupa gubuk  berukuran cukup besar. Kondisinya masih lumayan terawat, walaupun banyak sampah disini. Beristirahat sebentar menikmati pemandangan dibawah sana. Kebun-kebun terlihat samar oleh mendung dan kabut.

Trek selanjutnya masih menjadi misteri, penasaran seperti apakah pemandangan selanjutnya. Berjalan beberapa menit kami sudah diberikan tantangan untuk menaiki tanah yang sudah longsor dan licin. Untung saja masih ada sisa-sisa tumbuhan bawah yang dijadikan sebagai pijakan dan akar nafas yang menjulur sebagai pegangan. Cukup memakan tenaga dan sedikit menurunkan mental.

tanah longsor dan licin

tanah longsor dan licin

Lanjut melewati jalan setapak tanpa ada persimpangan, yang ada hanyalah belokan dan jalan lurus. Melangkahi akar-akar pohon yang muncul ke permukaan tanah dan melewati poho tumbang yang kami jalani. Hanya pohon, ranting, daun, semak, jalan setapak, dan akar yang kami temui. Inilah keunikan dari Gunung Slamet jalur Bambangan. Tidak bisa melihat pemandangan dibawah karena tertutup oleh rapatnya pohon-pohon disini.

Rombongan terpecah menjadi dua bagian, dan saya masuk kebagian paling belakang beserta 4 orang lainnya. Kali ini saya merasakan betapa beratnya pendakian untuk yang kedua kalinya, yang pertama ketika saya pertama kali naik gunung dan yang kedua adalah saat ini. Mungkin disebabkan karena terlalu lelah perjalanan naik motor dan kurang tidur.

Perjalanan terasa sangat lama, karena memang sangat lama saya berjalan. Yang bisa dilakukan hanyalah terus berjalan, istirahat dan minum hingga sampai di POS 5 tempat kami mendirikan tenda. Hujan rintik-rintik mulai turun saat adzan magrib berkumandang. Hutan menjadi sangat gelap kali ini, sama sekali tidak terlihat cahaya lampu dari perkampungan. Suasana menjadi sangat membosankan kali ini, yang dilihat hanyalah sorotan senter kearah tanah.

Dan akhirnya, ketika kami pada puncak kelaparan, kelelahan dan kekantukan tibalah kami pada sebuah lokasi yang cukup terbuka, banyak suara dan lampu. Akhirnya kami tiba di POS 5 pada jam 21:00 waktu stempat. Langsung merapatkan barisan menuju teman-teman yang sudah mendirikan tenda dan memasak. Masuk kedalam tenda untuk ganti celana yang kering kemudian keluar lagi untuk makan. Rasanya seperti terlahir dengan semangat baru.

makan-makan dan bakar-bakar di POS 5

makan-makan dan bakar-bakar di POS 5

Sudah makan, sudah memakai atribut tidur dan sudah menentukan lokasi tidur tibalah untuk tidur. Tidak tidur didalam tenda sudah merasa nyaman, apalagi kalo tidur ditenda. Menutupi seluruh bagian wajah dengan sarung karena asap dari api unggun menyebar kemana-mana. Kali ini Saya benar-benar memanfaatkan untuk beristirahat dengan maksimal, karena beberapa jam lagi sudah harus nanjak ke puncak.

Minggu, 21 April 2013

Suara gemuruh manusia berjalan dan suara teriakan kata “puncak” sudah mulai terdengar. Segera bergegas melepas semua atribut tidur yang dikenakan dan langsung bersiap untuk mulai penanjakan. Hawa dingin tidak ada tandingannya dengan semangat dan tekat berdiri di puncak tertinggi Jawa Tengah. Menyiapkan segala perlengkapan kemudian memasukan barang-barang kedalam tenda.

Perjalanan dimulai jam 03:00 dengan berdoa agar perjalanan lancar dan sampai puncak. Bermodal dengan makan sepotong roti dan minum sedikit air putih. Perjalanan tidak sesulit sebelum mencapai POS 5 dan pemandangan bisa terlihat dari sini. Masih dengan jalur penuh pohon dan akar yang menemani perjalanan hingga tibalah kami di POS 7.

POS 7 keadaanya cukup terbuka dan dari sini sudah bisa melihat samar-samar cahaya kuning dari ufuk timur. Berhenti di gubuk POS 7 untuk beristirahat sebentar dan akan lanjut untuk melihat sunrise stelah pos ini. Langit sudah mulai terang dan kami melanjutkan perjalanan lagi. Menentukan spot untuk menyaksikan detik-detik bangunnya matahari dengan pemandangan landscape yang luas.

menunggu datangnya matahari

menunggu datangnya matahari

Kami menyaksikan bangunnya matahri sekitar jam 05:30 dari bibir tebing. Suasana serta pemandangan bangkitnya matahari dari tidurnya terlihat sangat istimewa. Lebih indah dari pada melihat hasil foto, bahkan dari fotografer profesional sekalipun. Rasanya begitu puas, terharu, bahagia, dan perasaan senang lainnya. Ditambah dengan pemandangan awan yang begerak seperti ombak laut menjadikan suasana semakin istimewa.

Matahari sudah menunjukan wujud utuhnya, kini kami juga harus melanjutkan perjalanan. Puncak sudah terlihat dengan jalan terjal berbatu seperti kerikil. Ini bukan pasir, ini kerikil yang cukup kasar dan sangat labil bila diinjak. Terasa kemiringan lebih dari 50° dilengkapi dengan batu kerikil dan batu besar. Bagian ini yang memakan banyak tenaga serta harus berkonsentrasi agar tidak terpeleset.

Sekitar jam 09:00 kami semua sudah tiba di Puncak Gunung Slamet. Segera Saya mencari lokasi untuk sujud syukur atas keberhasilan menginjakkan kaki di Puncak Tertinggi Jawa Tengah. Pemandangan kawah yang masih menyemburkan gas sangat indah. Untuk pertama kalinya saya melihat kawah sebesar ini. Pemandangan dibawah terasa begitu istimewa, lebih dari cukup untuk mengimbangi rasa lelah yang didapatkan.

Setelah puas berfoto dan menikmati pemandangan Puncak Tertinggi di Jawa Tengah ini, kami kembali turun sekitar jam 10:00 waktu setempat. Berhubung asap hitam yang tergolong beracun sudah mulai menutupi puncak, kami semua turun. Kembali membutuhkan konsentrasi tinggi melewati kerikil-kerikil dengan turunan yang curam.

Setelah susah payah melewati kerikil yang sangat mudah longsor itu, kami mulai memasuki hutan dengan jalan tanah. Ketika sebelumnya harus berjalan pelan-pelan kini bisa digunakan untuk berlari. Tenggorokan menjadi lebih cepat haus ketika berlari, padahal air minum yang kami bawa kepuncak sudah habis. Akhirnya harus menahan haus dan cepat-cepat menuju POS 5.

Sampailah kami di POS 5 pada jam 12:00 dengan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan. Disini kami segera makan, packing, bongkar tenda dan mengisi air di sumber mata air. Berhubung sudah siang dan antisipasi hujan, kami hanya istirahat sebentar lalu treking turun. Treking turun dari POS 5 kurang lebih jam 13:00 dengan cuaca sudah mulai berkabut.

packing sebelum turun

packing sebelum turun

Perjalanan turun kali ini saya tidak berlari tapi hanya jalan cepat, karena membawa beban tas yang cukup berat. Tidak terasa kami sudah melewati POS 3 dan bertemu kembali dengan rombongan 5 orang laki-laki paruh baya kemaren. Mereka sedang duduk-duduk santai di POS 3, kemudian kami ikut beristirahat disitu. Karena masih asik ngobrol dengan kelima orang yang sudah berumur ini, saya dan 2 orang teman ditinggal rombongan.

Saya mendapat banyak cerita pengalaman dari mereka dan kita bertiga berkesempatan foto bareng mereka. Sayangnya kami foto dengan kamera mereka, jadi tidak punya bukti foto bareng. Perjalanan dilanjut setelah foto bareng, badan sudah mulai terasa berat lagi. Berjalan cepat namun pasti dan akhirnya bertemu kembali dengan rombongan kita di POS 1.

Kami beristirahat lama di POS 1  sambil melihat pemandangan perkebunan yang luas dan atraksi Elang Jawa. Sebagian rombongan memutuskan untuk turun duluan, sedangkan saya masih betah disini. Menggunakan sebuah kursi panjang untuk berbaring dan memejamkan mata sebentar. Perjalanan lanjut saat mendung mulai tebal dan dibawah sudah ada rombongan yang mau naik.

Saat turun kami bertemu dengan rombongan anak SMA beserta seorang gurunya. Saya sempatkan untuk mengobrol bersama gurunya. Ternyata mereka mau memasang penunjuk jalan dari basecamp hingga puncak disetiap persimpangan. Akhirnya sang guru tersebut meminta nomor Saya dan akan menghubungi saya jika ada kegiatan-kegiatan yang membutuhkan banyak masa.

Kami melanjutkan perjalanan turun dengan pelan-pelan. Hampir sampai di perkebunan kami harus menerima hujan yang turun dari langit. Berhubung jas hujan saya sudah dibakar di POS 5 tadi, terpaksa harus merelakan pakaian saya untuk basah. Terus berjalan dan akhirnya kami sampi di basecamp sekitar jam 17:00 waktu setempat.

Langsung bergegas sholat dan membersihkan diri karena sudah hampir magrib. Setelah sholat waktunya makan nasi, bukan mie instan lagi. Setelah makan dan minum kami beristirahat di basecamp hingga tertidur. Sekitar jam 23:00 kami semua dibangunkan untuk pulang ke Jogja. Kembali packing bawaan kemudian mengeluarkan motor dari basecamp. Tepat jam 24:00 kami beranjak dari basecamp.

Senin, 22 April 2013

Jalanan sangat sepi dengan cuaca yang cukup cerah, sama sekali tidak hujan. Motor dikebut seperti jalanan milik sendiri, karena memang jalanan sudah sangat sepi. Kami pulang beda melewati jalur yang berbeda dari keberangkatan. Jalannya lebih rata tanpa ada lubang yang berarti, tapi ketika melewati daerah Kertek yang nanjak motor revo kembali berjalanan pelan.

Saya bertemu dengan rombongan lagi didaerah Temanggung saat mengisi bensin di POM. Ketika kami mau lanjut perjalanan, ternyata hujan yang cukup deras turun. Kami memilih untuk berteduh dulu disini hingga hujan reda. Rasanya lapar bercampur dengan rasa kantuk masih ditambah hawa dingin. Setelah reda kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi sarapan di alun-alun Temanggung, tapi sampai sana warungnya belum buka.

Perjalanan dilanjutkan langsung menuju Jogja, saya mampir dulu di minimarket daerah Magelang untuk sekedar minum dan sedikit makan. Setelah lapar tertunda dan mata kembali segar dilanjutkan perjalanan yang tinggal 30menit lagi. Mendapatkan pemandangan sunrise yang keluar dari sela-sela Gunung Merapi dan Merbabu menambah mata makin melek. Jam 06:30 saya sampai di Jogja dengan dengan selamat dan berhasil menduduki Puncak Gunung Slamet.

CIMG4026

“Jalan menuju puncak tertinggi tidaklah mudah, penuh dengan cucuran keringat perjuangan dan paksaan kepada diri sendiri. Gunung Slamet 3428Mdpl lokasi tertinggi di Jawa Tengah adalah saksi perjuangan atas keindahan alam Indonesia.”

 

BUDGET:

Bensin untuk sepeda motor PP : Rp. 46.000,-

Parkir Basecamp : Rp. 5.000,-

Registrasi Pendakian : Rp. 5.000,-

Emblem : Rp. 7.000.-

Bahan makanan : Rp. 11.000,-

Konsumsi di perjalanan dan di basecamp : Rp. 25.500,-

Lain-lain: Rp. 19.000,-

TOTAL : Rp. 118.500,-