Pulau Harapan, Bukan Harapan Palsu #PHPtrip

SAM_0245

Setelah satu bulan menunggu sebuah harapan bertemu dengan kecantikan pulau di Indonesia. Tibalah hari itu datang, walaupun disituasi yang kurang tepat karena berada ditengah-tengah ujian tengah semester. Maklumlah sebagai seorang mahasiswa yang berprestasi dan cinta jalan-jalan, saya lebih meluangkan waktu untuk jalan-jalan.

Trip kali ini berjudul #PHPtrip. Kalian bisa membaca informasi terkait pelaksanaan trip ini dengan hastag tersebut dari media sosial twitter[dot]com. #PHPtrip sendiri mempunyai arti Pulau HaraPan Trip, bukan Pemberi Harapan Palsu (Pokoknya trip ini Anti Mainstream-lah). Trip ini bekerjasama dengan akun twitter @kostpacker dan anggota Backpacker Indonesia Regional Jabodetabek.

Pulau Harapan merupakan sebuah kelurahan yang berada di kecamatan Kepulauan Seribu Utara Propinsi DKI Jakarta. Pulau Harapan juga merupakan salah satu nama pulau di Kepulauan Seribu. Menurut informasi yang didapatkan, Pulau ini digunakan sebagai tempat take video iklan produk Poc*riswe*t yang dibintangi oleh JKT 48.

Di trip kali ini saya membawa 2 orang teman se-fakultas untuk menjadi teman perjalanan. 2 orang gembel tersebut adalah Senna dan Anang yang notabene baru pertamakali ke Jakarta. Si Senna ini baru pertama kali naik kereta dan pertamakali ke Jakarta saat trip ini (Pertama kali naik kereta langsung kena kelas ekonomi). Sedangkan Anang baru pertama kali ke Jakarta tapi sudah berkali-kali naik kereta.

 

(dari kiri) Senna dan Anang

(dari kiri) Senna dan Anang

Jum’at 12 April 2013

Masih dalam suasana ujian tengah semester dan hari ini adalah ujian DPSL (Dasar Pengelolaan Satwa Liar) yang dimulai pukul 13:00 Wib. Dengan cukup tenang dan suasana hati yang dag-dig-dug menanti keberangkatan sore ini, dengan cepat ujian hari ini saya selesaikan. Meski keberangkatan masih jam 17:09 Wib namun sungguh terasa lebih cepat jam berdetak. Dengan waktu kurang dari satu jam saya sudah menyelesaikan semua soal-soal tanpa memikirkan jawaban salah.

Jam 15:00 saya sudah sampai rumah dan segera packing barang-barang yang sudah dipersiapkan. Sms peringatan untuk jangan telat dan mempersiapkan segalanya, sudah terkirim ke nomor handphone Anang dan Senna. Sementara itu Indomart menjadi tujuan selanjutnya untuk membeli bekal berupa 4 pack ABC Kacang Hijau. Minuman ini dipilih karena menimbulkan efek mengganjal perut agar tidak cepat lapar.

Jam 16:00 dua teman perjalanan sudah datang kerumah, namun kemudian pergi lagi untuk mencari Indomart. Sambil menunggu 30 menit sebelum kereta jalan, kami istirahat sejenak sambil melengkapi sholat ashar untuk yang belum sholat. 30 menit sebelum kereta jalan, kami berangkat dari daerah Baciro menuju stasiun lempuyangan. Sesampainya disana kami langsung masuk dan memposisikan diri di ruang tunggu sambil sesekali membicarakan orang.

Nasib kami kurang baik kali ini, karena sudah lewat dari jam 17:09 wib namun kereta Gaya Baru Malam Selatan belum datang menghampiri. Jantung mulai berdebar tak beraturan seperti menunjukan bahwa ini sebuah kode terlambat atau tertinggal. Untuk sedikit menenangkan perasaan, saya mencoba bertanya pada dua orang gadis dibelakang saya. Sedikit malu jadinya, setelah mengetahui mereka menunggu kereta Pramex (Prambanan Express) bukan GBM Selatan. Padahal saya mencari orang yang senasib dengan kami bertiga.

Akhirnya GBM datang dengan senyum harapan Jakarta. Kereta datang terlambat 30 menit, sudah pasti jadual tiba juga terlambat kurang lebih 30 menit. Gerbong 3 menjadi tujuan utama setelah masuk kedalam kereta.  Mendapat tempat duduk bangku berisi 3 orang dan dihadapkan dengan laki-laki cukup tua dan anaknya. Saat naik kereta ekonomi, saya belum pernah berhadapan dengan wanita muda.

Kereta mulai berjalan dengan kecepatan stabil. Kondisi kereta ekonomi memang mengesankan, apalagi untuk yang pertama kali naik kereta. Senna tidak bisa tidur kali ini dan Dia hanya menganti-ganti posisi duduknya. Sedangkan Saya dan Anang bisa tidur dengan nyaman karena sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.

Sabtu 13 April 2013

Kereta masih tetap berjalan hingga tibalah kami disebuah Stasiun yang cukup besar, inilah Stasiun Pasar Senen. Ini kali pertamanya bagi Anang dan Senna menginjakan kaki di Jakarta. Perasaan mulai datang memburu, kami sudah ditunggu oleh sahabat-sahabat BPI Jabodetabek. Tim penjemput yaitu Ivo, Anggar, Vanda, Mozha, dan Sera.

Setelah dari Stasiun Pasar Senen, kami langsung menuju Pelabuhan Muara Angke untuk bertemu dengan rombongan yang sudah disana. Kurang lebih perjalanan satu jam dengan mobil dengan melewati jalan tol. Senna dan Anang terlihat begitu tegang ketika mobil dikemudikan oleh Anggar, karena mungkin kecepatan sampai 180km/jam.

Sekitar pukul 04:10 Wib kami sampai di Meeting Point #PHPtrip yaitu di POM Muara Angke. Ketika turun dari mobil langsung tercium bau ikan dan terasi. Jalanan tergenang air dan orang-orang sudah mulai bekerja membawa ikan dari pelabuhan. Terlihat sekumpulan orang yang saya kenal sudah menunggu di depan ATM. Seperti kerumunan gembel-gembel dengan tas-tas besar yang sedang ngemper di pinggir ATM.

IMG_7161

lokasi meeting point

Mumpung belum adzan subuh, kami bertiga sempatkan dulu untuk menjamak sholat magrib dengan isya’. Selanjutnya dilanjutkan duduk-duduk didalam mushola POM hingga adzan subuh terdengar. Setelah sholat subuh kami kembali bergabung dengan rombongan duduk-duduk didepan ATM. Perut mulai terasa lapar, saya mencoba mencari makanan disekitar POM. Akhirnya kami makan soto ayam yang cukup istimewa karena hangat kuahnya begitu menyegarkan.

Tepat jam 06:00 pagi kami beranjak naik kedalam Kapal. Langsung mengambil posisi di lantai 2 kapal dan mencari posisi tidur. Satu persatu penumpang yang ingin berlibur ke kepulauan seribu naik kapal.  Ada yang membawa anak-anaknya, ada yang membawa pacarnya, dan ada yang membawa alat masak. Kapal sudah over load (kelebihan penumpang) masih saja ditambah penumpang lagi.

Pukul 07:35 tepat, kapal mulai bergerak menjauh dari pelabuhan Muara Angke. Gedung-gedung perkantoran, bandara, apartment, POM, dan kapal-kapal yang bersandar mulai mengecil dan semakin mengecil seiring terbentuknya pusaran air dibelakang kapal kami. Burung-burung pantai terlihat begitu serius dalam memperhatikan Laut Jawa sambil melakukan manufer naik turun dan saling bergerak bersilangan.

Kurang lebih 3 jam terombang-ambing diatas kapal ini dengan puluhan bahkan ratusan orang yang akan berlibur di Kepulauan Seribu, sampailah kami di pemberhentian pertama yaitu Pulau Pramuka Cyber Island. Dua orang ABK mulai turun dan mengkondisikan siapa saja yang akan turun di Pulau Pramuka. Terlintas sebuah pikiran bahwa yang turun disini sebanyak 50% dari penumpang kapal. Tetapi kenyataan berkata lain, yang turun hanya belasan orang saja.

Kapal kembali menjauh dari dermaga, melanjutkan perjalanan menuju tujuan terakhir kapal ini. Handphone Nokia 101 warna merah saya keluarkan, terlihat waktu menunjukan angka 11:15 Wib. Pulau Harapan, dengan pemandangan jajaran kapal nelayan dan anak-anak telanjang tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya meloncat sambil berenang disekitar kapal. Ini moment luar biasa, ditengah maraknya anak-anak bermain dengan gadget masih ada anak-anak yang mampu bermain bahagia tanpa alat-alat canggih.

Bongkar muat penumpang di dermaga ini terlihat seperti arus mudik di Pelabuhan Merak. Penumpang berjubel keluar sambil membawa tas-tas ransel serta bungkusan plastik berisi makanan dan sebagainya. Sambil menung orang-orang keluar dulu, saatnya kami beraksi. Keluarlah dua buah kamera, berjajarlah kami semua diatas kapal. Selanjutnya ditemani matahari terik yang cukup membuat kulit mengerang kesakitan, kami berjalan sekitar 500 meter dari pelabuhan ke homestay.

 

Tepat pukul 11:14 kami sampai disebuah rumah dengan tipe yang sama seperti homestay lainnya. Secara serempak kami langsung menyasar kursi, kasur, AC, televisi, dan kamar mandi. Kondisi asik untuk tidur siang, karena dari jam 02:00 dini hari kami semua belum tidur. Mengingat sebuah kata-kata dari salah seorang oknum BPI Jabodetabek “Jauh-jauh dari Jogja cuma tidur, balik aja sono!”. Kata-kata itu yang membuat saya semakin menjauh dari kasur siang ini.

Sekitar jam 12:00 seorang TS mengingatkan untuk persiapan snorkeling. Menurut jadual yang sudah dibuat, kami mengunjungi 3 Pulau untuk diarungi dunia bawah airnya. Sudah sangat tidak sabar melakukan snorkel di laut, karena saya belum pernah snorkel di laut. Beberapa orang terlihat mengenakan pakaian snorkel asli, sementara sisanya hanya menggunakan kaos dan celana pendek, itu termasuk saya.

Tepat pukul 13:00 kami berangkat snorkeling dari dermaga Pulau Harapan. Satu persatu dari kami mengenakan pelampung yang sudah disediakan. Memilih peralatan snorkeling sendiri dan duduk manis dikapal hingga tibalah kami disebuah tempat. Diantara pulau-pulau dan ditengah-tengah lautan biru seorang ABK turun menyelam mencari spot snorkeling. Jatung saya semakin dag-dig-dug menantikan saat-saat terapung dengan alat snorkel itu.

ABK tadi kembali kepermukaan, menandakan bahwa disinilah spot snorkeling pertama kami. Satu demi satu alat-alat dipasang pada tubuh kami diikuti suara ceburan penuh kebahagiaan. Moment terbaik untuk foto adalah ketika melompat dari atas kapal dan ketika foto dibawah air. Melompat dari atas kapal membuat sensasi snorkeling berbeda dan semakin greget. Ketika seluruh badan masuk kedalam laut, rasanya benar-benar menyenangkan. Kejadian terseret ombak, meminum air laut, hingga melihat dasar laut yang penuh dengan karang dan ikan membuat saya ingin berlama-lama disini.

Kurang lebih satu jam kami disini, selanjutnya beranjak menuju spot snorkeling kedua. Mesin kapal mulai dinyalakan, tali kapal diangkat dari dasar laut dan kami berjalan menuju arah utara. Terasa ombak dan angin semakin besar menerjang kapal kami. Mesin kapal memelan dan ABK kembali menceburkan dirinya kedalam laut sambil membawa tali kapal. Mengarahkan nahkoda kapal untuk mengikuti kemana orang itu berenang. Sekali lagi, orang itu mencari dan menunjukan spot snorkeling yang bagus sambil mengikat kapal pada sebuah karang besar.

Satu persatu yang sudah mengenakan perlengkapan langsung terjun mencari keindahan bawah laut di spot ini. Dilokasi ini terdapat sebuah pertunjukan bawah laut yang berwarna putih bertabur ikan-ikan yang berenang disekitar karang. Cuma disini kami bisa mendapat pengalaman bawah laut seperti ini, karena itu benar-benar dimanfaatkan waktu yang singkat disini. Berhubung cuaca sore ini kurang mendukung untuk melakukan snorkeling, kami semua beranjak naik ke atas perahu. Tali yang terikat dikarang besar segera diangkat kepermukaan oleh ABK tersebut.

Panitia berembuk dengan ABK kapal terkait cuaca hari ini yang kurang mendukung untuk melakukan snorkel. Solusi yang ditawarkan adalah mengunjungi pulau terdekat yang tidak berpenghuni. Dermaga pulau itu sudah hampir penuh dengan jajaran perahu nelayan yang berlabuh. Disini angin bertiup begitu kencang tanpa adanya jeda berhenti, seperti berada didepan kipas angin berkecepatan tinggi. Pulau itu terdapat 3 buah villa yang sudah tidak terawat lagi, bahkan isinya hanya debu-debu yang terperangkap di lantai-lantai villa

Foto di pulau yang tak terurus

Foto di pulau yang tak terurus

Kami teruskan perjalanan mengitari pulau ini dengan perlahan sambil mencari sebuah keistimewaan tempat ini. Matahari sudah mulai menipis masuk kedalam laut, saatnya kami kembali ke Pulau Harapan. Dalam ombang-ambing air laut yang mulai terasa ganas ini, kami masih diberi kesempatan menyaksikan menit-menit menjelang terbenamnya matahari di tengah laut. Tepat setelah sampai di dermaga Pulau Harapan, terlihat sebuah cahaya kuning membentuk garis-garis dilangit. Semua kamera yang masih bisa hidup langsung digunakan untuk mengincar moment terbenamnya matahari ini.

Sunset dari dermaga Pulau harapan

Sunset dari dermaga Pulau harapan

Kamar mandi sudah banyak antrian diluarnya ketika sampai di homestay. Memberi perjanjian untuk tidak mandi terlalu lama karena banyak yang antri mau mandi. Tempat cuci piring menjadi sasaran empuk untuk mengkredit keramas dan cuci muka. Ketika antrian kamar mandi sudah mendapat giliran mandi, didalam hanya menyelesaikan sisanya saja. Sehingga selesai lebih cepat dan yang lain bisa segera mandi. Habis mandi terasa mata mulai mengantuk kemudian langsung memasang posisi tidur didepan televisi hingga dibangunkan kurang lebih jam 20:00 untuk kumpul-kumpul.

Jam 20:00 kami semua dikumpulkan disamping homestay untuk sekedar sarasehan dan perkenalan antar peserta. Dari sini kami mengenal hampir seluruh peserta yang hadir, sebagiannya lagi sudah tertidur pulas dikamarnya. Berkenalan sambil menceritakan pesan dan kesan selama trip yang sudah dilakukan siang tadi. Sarasehan kali ini diakhiri dengan pembagian kaos merah #PHPtrip untuk masing-masing peserta.

Sebagian peserta langsung mengambil posisi tidur setelah pembagian kaos selesai. Sementara sabgiannya lagi memilih untuk keluar mencari kopi dan udara pantai di Pulau Harapan. Sekitar jam 22:30 berjalan mencari seduhan kopi di dermaga, tepatnya disebuah taman yang bernama Taman Terpadu. Sebuah warung sederhana terdapat dipinggiran taman, menyediakan berbagai macam seduhan kopi dan minuman bersoda.

SAM_0123

Taman Terpadu

Suasana malam disini sangat asik untuk galau, curhat, seneng, bercanda, hingga latihan alat instrumen tiup.  Begitu kami memasuki taman ini, sudah disambut suara yang ditimbulkan oleh alat instrumen tiup yang sampai saat ini, saya tidak mengetahui namanya. Meski suaranya tidak begitu enak didengarkan, tapi cukup membangkitkan suasana nyaman dan santai. Sajian kopi dan atribut lainnya menjadikan malam penuh bintang semakin terasa istimewa. Bahkan tidur disini pun terasa nikmat, meski angin pantai selalu menerpa badan kami.

 Minggu, 14 April 2013

Waktu sudah menunjukan jam 00:30 waktu Jogja, karena jam yang saya gunakan masih waktu Indonesia bagian Jogja. Membayar beberapa gelas kopi kemudian kami berjalan kembali ke homestay untuk beristirahat. Tanpa pikir panjang, langsung menempatkan posisi diatas kasur dan akhirnya kami semua tertidur.

Suara beberapa orang sudah mulai terdengar, pikiran sudah mulai kembali sadar, namun mata dan badan masih enggan bergerak dari keadaan nyaman.  Hingga akhirnya saya melihat jam sudah menunjukan pukul 06:30 waktu bagian Jogja. Berhubung saya belum sholat subuh, langsung mensabotase kamar mandi untuk wudu dan langsung sholat. Tidak perlu mandi pagi karena kemarin sudah mandi sore dan badan masih sedikit wangi.

Sementara sebagian para wanita mengantri untuk mandi, ABK yang sedari kemarin mengantarkan kami datang. Mengajak untuk segera bergegas melakukan kunjungan kebeberapa pulau sebelum kami pulang ke Jakarta. Yang sudah siap langsung berjalan menuju perahu yang terparkir rapi di dermaga. Makanan ringan dan teh hangat menu sarapan pagi ini sudah tersaji diatas perahu. Perahu mulai berjalan menjauh dari dermaga, gelas demi gelas teh hangat sudah mulai dibagikan.

Kunjungan pertama untuk hari ini adalah Pulau Perak. Sama sekali belum ada bayangan seperti apa pulau ini dan apa saja isinya. Dari jauh terlihat hutan yang cukup lebat dan rombongan yang sedang camping disini.  Ketika menginjakan kaki disini, tiba-tiba ada yang langsung menceburkan diri dari atas dermaga. Namun saya memutuskan untuk eksplorasi kedalam pulau terlebih dahulu. Masuk kedalam gerbang hutan yang sudah terdapat jalan setapak dan MCK yang berair tawar.

Sesudah masuk kedalam hutan, kembalilah bergabung dengan rombongan. Rupanya sudah mulai permainan cebur-ceburan disini. Saya mengambil langkah untuk menceburkan sendiri ke pantai  dengan cara lari dan koprol dari atas dermaga. Rasanya sangat menyenangkan bisa bermain lepas seperti ini. Saya bisa free diving dengan peralatan kacamata renang milik salah satu awak perahu. Bisa snorkeling dan foto underwater serta bisa melompat dengan bebas.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju pulau yang kedua dari tiga pulau yang direncanakan. Pulau yang kedua adalah Pulau Bira Besar. Disini terlihat sebuah bangunan besar mirip lobi hotel namun sudah lama tidak terpakai. Suasana sedikit mencekam terasa disini, karena kondisi pulau yang sudah tidak terawat lagi. Perjalanan mengitari pulau ini juga menjadi terhambat, karena waktu yang diperlukan untuk menuju pulau yang terakhir sudah mepet. Padahal disini ada sebuah lapangan golf yang membuat Saya penasaran untuk mengeksplornya.

Lanjut ke pulau selanjutnya, dipulau yang terakhir ini kami diberi kesempatan untuk melihat penangkaran penyu sisik milik Taman Nasional Kepulauan Seribu. Pulau ini bernama Pulau Kelapa Dua, yang terletak disebelah barat Pulau Harapan. Pulau ini termasuk pulau yang padat penduduk dengan rumah panggung yang khas. Berjalan melalui tengah-tengah perkampungan untuk dapat sampai ke lokasi penangkaran penyu sisik. Disana kami mendapat sambutan baik dari pengelola penangkaran. Kami disini dipuaskan dengan melihat penyu dari yang masih bayi hingga yang sudah siap untuk dilepas ke laut.

Pulau Kelapa Dua menjadi objek terakhir dalam  #PHPtrip. Kami kembali lagi ke Pulau Harapan untuk berkemas dan berpamitan pulang.  Jadual kapal menuju Muara Angke berangkat jam 13:00 dari Pulau Harapan. Kami diharapkan untuk lebih cepat  masuk kedalam kapal karena jumlah orang yang menggunakan kapal ini sangat banyak.  Kami datang disaat kapal mau jalan, dan sebagian dari kami harus rela duduk diatap kapal karena tempat untuk penumpang sudah penuh.

Panas terik matahari sangat luar biasa, memaksa kami untuk menggunakan krim sun block dan menutupi kepala dengan handuk atau sarung.  Perjalanan menuju Muara Angke kurang kebih 3 jam, sedikit lebih cepat dibanding keberangkatan. Sepanjang perjalanan kami bisa sangat leluasa memandangi perbedaan warna laut yang mulai kotor.  Pemandangan burung-burung yang terbang mencari makan serta pulau-pulau kecil yang kami lewati sangat memberi kesan ingin kembali lagi kesini.

SAM_0240

3 jam di atap kereta

Kurang lebih jam 16:00 kapal sampai di Pelabuhan Muara Angke dengan selamat dan bahagia. Ratusan orang antri untuk keluar dari kapal dengan melewati kapal-kapal yang bersandar disampingnya.  Keluar dari pelabuhan melalui pintu belakang POM  tempat dimana Meeting Point keberangkatan. Disini kami semua mulai berpisah satu-persatu. Saya, Anang, dan Senna kembali diangkut oleh rombongan Anggar dan Ivo menuju rumah Vanda untuk sekedar mandi dan beristirahat sejenak sebelum diantar ke Stasiun Pasar Senen.

Kini berakhirlah sudah acara #PHPtrip, di Stasiun Pasar Senen jam 22:00 waktu setempat. Perjalanan yang tersisa adalah perjalanan pulang kembali ke kehidupan normal seperti biasa, rutinitas seperti yang sudah-sudah, dan kegiatan yang selalu sama disetiap harinya. Perjalanan kali ini sunggu melukiskan keindahan di lembaran hati dan sejarah hidup Saya.

“Sebuah permata yang tersimpan dalam kesan kejam Ibu Kota. Pulau Harapan Milik Indonesia.”

SAM_0125

Budget:

Biaya Paket #PHPtrip : Rp. 350.000,-

Tiket Kereta Gaya Baru Malam (Jogja-Jakarta) : Rp. 33.500,-

Tiket Kereta Progo (Jakarta-Jogja) : Rp. 35.000,-

Konsumsi : Rp. 45.500,-

Lain-lain : Rp. 75.000,-

TOTAL : Rp. 539.000,-

Thanks To:

540362_418802891476708_611652438_n

Taman Nasional Kepulauan Seribu

70-logo-enjoy-jakarta