Gunung Bibi, Habitat Sang Lutung Budeng

IMG_3294

Setelah sudah sekian lama tidak melakukan pengamatan primata, kini saya bersama Kelompok Pengamat, Peneliti, dan Pemerhati Primata Forestation Fakultas Kehutanan UGM kembali melakukan pengamatan di Gunung Bibi. Gunung Bibi berada disebelah timur Gunung Merapi dan sebelah selatan jalur pendakian New Selo yang terletak di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Gunung Bibi mirip seperti bukit namun memiliki tingkat kelerengan yang curam, sehingga termasuk kategori gunung.

Di Gunung Bibi sendiri terdapat beberapa jenis primata, yaitu Lutung Budeng (Trachypithecus auratus.) dan Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis.). Selain dua primata ini, disini juga terdapat elang hitam (Ictinaetus malayensis) dan jenis-jenis burung lainnya. Kondisi gunung ini yang jarang dikunjungi oleh pendaki membuat lokasi ini menjadi habitat satwa liar yang cukup memadai. Di jalur pengamatan ini terdapat sumber air yang menghidupi puluhan keluarga di desa Songgo Bumi. Sumber air tersebut berasal dari dalam goa yang bernama Goa Lowo.

Jum’at, 29 Maret 2013

Ketika sholat jum’at berlangsung, tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Janji untuk berkumpul di taman timur kampus yang seharusnya jam 13.00 tertunda. Hujan terus turun hingga adzan Ashar berkumandang. Akhirnya dengan berat saya putuskan untuk pindah lokasi kumpul ke Kontrakan Keong. Meski hujan masih turun dengan lembut, saya tetap berusaha datang ke lokasi meetingpoint.

Akhirnya kami berngkat pukul 17.00 dari meeting point sehubungan dengan redanya hujan yang dari tadi turun. Sepuluh orang dengan lima motor berangkat serentak dari sini, kemudian satu orang sudah menunggu di Kalasan sejak jam 16.00 tadi. Berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar premium di POM bensin sebelah timur Hotel Ambarukmo. Perjalanan berlanjut hingga kami bertemu dengan seorang teman yang sudah menunggu di Kalasan.

Keberangkatan dari kontrakan Keong

Keberangkatan dari kontrakan Keong

Satu jam perjalanan, kami masuk ke kota Klaten. Disini suasana jalan cukup ramai karena jalur yang kami gunakan melewati area perayaan paskah. Setelah melalui jalan yang cukup ramai di sekitar gereja, motor yang saya gunakan suhunya sangat panas. Akhirnya saya memilih untuk berhenti dan ditinggal oleh teman-teman yang lain agar mengurangi risiko kerusakan motor.

Akibat dari menunggu suhu mesin motor turun, saya dan teman semotor tertinggal dengan rombongan. Berhubung sudah malam dan saya sedikit lupa jalan menuju Boyolali, akhirnya mulailah saya bermain insting mengkira-kira jalan yang benar. Hingga akhirnya tibalah kami disebuah jalan yang tidak pernah saya lewati, dengan kondisi jalan rusak dan sepi. Teman yang lain sudah berhenti untuk menunggu, saya kabari mereka untuk bertemu disalah satu angkringan di Kota Boyolali.

Berkat banyak bertanya, akhirnya tiba juga di sebuah patung orang yang sedang membawa tabung susu. Saya mulai ingat jika jalan ini memang jalan yang pernah saya lewati dulu ketika pertama kali ke Gunung Bibi. Mulailah mengabari teman-teman untuk bertemu di angkringan. Sebenarnya jalan yang saya lalui ini adalah jalan menuju Gunung Bibi, tapi saya kembali turun untuk makan malam dan bertemu dengan rombongan yang lain.

Makan malam dengan nasi ayam pun sudah dilakukan, menimbulkan efek kenyang dan sedikit mengantuk. Perjalanan kembali dimulai, kali ini saya diposisikan menjadi yang paling depan memimpin rombongan. Sekitar 1 jam perjalanan akhirnya sampailah kami di desa Songgo Bumi yang kami tuju. Sambutan hangat pemilik rumah dan suguhan berupa teh panas menjadikan lelah dan dingin mendadak sirna.

diterima di rumah singgah milik Pak Widi

diterima di rumah singgah milik Pak Widi

Setelah minum dan sedikit makan camilan yang disuguhkan, kami beranjak menata lokasi untuk tidur. Sleeping bag didalam tas mulai dikeluarkan satu persatu dan tak kalah sarung bag juga dikeluarkan. Mencari posisi paling enak untuk tidur, dan kami semua istirahat dengan nyenyak disini.

Sabtu, 30 Maret 2013

Suara gemuruh penghuni rumah menunjukan bahwa sudah ada kegiatan disini, ditambah kondisi perut yang kian bergejolak sambil mengeluarkan gas-gas kotor. Melihat handphone dan ternyata sudah jam 06.00 sontak saya langsung mengambil air wudhu dan segera sholat subuh. Manusia-manusia disamping saya ternyata masih tidur dengan posisi-posisi nyaman mereka.

Terpakasa saya bangunkan satu persatu untuk siap-siap pengamatan hari ini. Dan metode membangunkan paling efektif untuk anak-anak kost adalah menyajikan makanan di dekatnya, itu hal yang paling efektif. Setelah semuanya bangun, sarapan segera dihabiskan dan pengamatan akan segera dimulai.

Satu persatu sepeda motor di dipanaskan, satu persatu sepatu mulai dikenakan, dan satu-persatu perlengkapan pengamatan mulai dimasukan. Pengamatan diawali dengan menaiki sepedamotor hingga ketinggian kurang lebih 1.000 Mdpl. Selanjutnya melakukan perjalanan menaiki gunung hingga ke ketinggian 1574 Mdpl. Kami menyempatkan mengambil air dari Goa Lowo untuk bekal masak diatas.

menyiapkan sepedamotor

menyiapkan sepedamotor

Spot Pengamatan Pertama

Spot Pengamatan Pertama

Kawanan Lutung Budeng

Kawanan Lutung Budeng

terlihat satu ekor bayi Lutung Budeng (kuning)

terlihat satu ekor bayi Lutung Budeng (kuning)

Bonus Elang Hitam

Bonus Elang Hitam

Penentuan spot pengamatan sudah direncanakan, berhubung kami sedang beruntung dapatlah kita melihat penampakan secara langsung. Sekawanan lutung budeng nampak asik dengan kegiatan mereka, ada yang makan, bermain, bahkan ada yang sedang santai-santai. Kurang lebih jumlahnya ada 12 ekor termasuk 2 diantaranya masih bayi. Bayi Lutung memiliki warna kuning kecoklatan, sedangkan yang jouvenil/remaja warna kuning hanya tersisa sedikit di ekornya.

Puas melihat sekawanan lutung, kami disuguhi manufer-manufer cantik dari Elang Hitam yang mondar-mandir diatas kepala kami. Sembari menunggu pergerakan Lutung, kami menyempatkan memasak kopi yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Alat memasak mulai digunakan, dan air asli dari mata air kami gunakan untuk membuat kopi.

Situasi serius mengamati pergerakan kawanan Lutung Budeng

Situasi serius mengamati pergerakan kawanan Lutung Budeng

Masak kopi dulu

Masak kopi dulu

Segar setelah menengguk kopi saatnya kami melakukan sebuah ritual baru, yaitu harlem shake. Mencari tempat yang cukup datar dan mencari penyangga kamera harus saya lakukan untuk mendapat hasil semaksimal mungkin. Penyesuaian lokasi dan gerakan wajib dilakukan sebelum memulai rekaman. Rekaman dilakukan sebanyak 6 kali dan hasilnyapun cukup menghibur yang sedang galau.

Harlem shake terhenti seiring rintikan air hujan yang mulai turun. Kami semua turun dengan ditemani kabut beserta terpaan tetes ringan air hujan. Dalam perjalanan turun menggunakan sepedamotor, saya hampir terperosok kedalam jurang karena jalan tanah sudah mulai licin. Kemudian pergantian joki pun dimulai. Terpaksa saya turun tangan untuk menyetir seonggok benda beroda itu.

Sampai rumah singgah yang kami lakukan adalah makan siang, tidur, main kartu hingga tiba saatnya makan malam. Inilah kegiatan pengamatan primata yang kami lakukan, lebih lama di camp dibanding di lapangannya. Yang penting kami semua mendapat data dan ilmu dari waktu yang sebentar dilapangan.

kawanan sedang turun gunung untuk kembali ke kandang

kawanan sedang turun gunung untuk kembali ke kandang

pengisian waktu luang setelah pengamatan

pengisian waktu luang setelah pengamatan

bobok siang dulu

bobok siang dulu

Langit mulai gelap, makan malam mulai disuguhkan dengan teman segelas teh panas. Semakin dingin suasana disini merupakan suasana tepat untuk bakar jagung. Meminta ijin menggunakan dapur untuk bakar-bakar jagung dengan arang yang sudah dipersiapkan dari Jogja.  Sungguh luar biasa rasa seonggok jagung bakar dengan bumbu margarin dan sambal pedas manis yang mampu menggoyang lidah dan perut.

Minggu, 31 Maret 2013

Kembali perasaan yang sama seperti pagi sebelumnya disini. Bangun skitar jam 06.00 pagi dan sholat subuh telat lagi. Meskipun semalam sudah diberitahu jika hari ini kita harus berangkat pagi, tetapi tetap yang namanya mahasiswa ya terlambat. Sarapan juga datang seperti kemarin, seharusnya sudah siap lebih pagi lagi.

Kali ini jalur pengamatan berbeda dengan yang kemarin. Jalur yang sekarang lebih curam dan penuh tantangan. Rumput gajah sudah melambai-lambai untuk dibelai dan disibakkan dengan tangan. Tinggi rumput melebihi tinggi manusia normal pada umumnya.

Jalur yang kami lewati hari ini sudah tertutup dengan rumput gajah yang merupakan pakan ternak sapi milik warga. Penutupan ini dikarenakan musim penghujan membuat subur tanaman-tanaman ini. Terpakasa sedikit merusak rumput yang menghalangi jalan ketika melalui laur tersebut.

rumput yang harus kami lewati

rumput yang harus kami lewati

Kurang lebih satu jam perjalanan, sampailah kita di titik pengamatan. Namun sayang sekali setelah menunggu lama, lutung yang kami harapkan justru tidak menampakan batang ekornya. Kami hanya menunggu dan menunggu sambil memasak kopi lagi. Yang hadir dilokasi ini hanyalah 2 ekor elang hitam yang bermanufer mengelilingi sisi tebing.

masih berusaha mencari Lutung

masih berusaha mencari Lutung

meski sudah naik pohon, tetap belum terlihat

meski sudah naik pohon, tetap belum terlihat

Kabut sudah mulai tebal, hari sudah mulai siang, akhirnya kami memutuskan untuk turun. Meski tidak mendapat hasil hari ini, tetapi sudah cukup terbayarkan dengan pemandangan dan munculnya elang hitam. Melewati jalur yang berbeda dari keberangkatan membuat salah seorang teman kami hampir terperosok kedalam jurang. Tapi jalan kali ini lebih cepat sampai ke lokasi dimana sepedamotor diparkir.

hasilnya Elang Hitam lagi

hasilnya Elang Hitam lagi

Sesampainya dirumah singgah, bergegas kami semua mengemasi barang bawaan dan membereskan sampah-sampah yang ada. Sebelum berpamitan dengan pemilik rumah, kami diberi makan siang. Lumayan untuk menghemat pengeluaran dibanding makan diwarung. Berpamitan sekaligus mengisi buku tamu menjadi penghujung pengamatan kami kali ini. Semoga dikesempatan berikutnya kami semua masih bisa berkunjung kelokasi ini walau untuk sekedar silaturahmi.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“Dalam sebuah pengamatan kita tidak mendapat hasil apapun, jangan pernah menyerah untuk mengamatinya lagi, lagi, dan lagi hingga kita menemukannya.”

Budget:

Iuran : Rp. 40.000,-

Bahan untuk jagung bakar : Rp. 10.000,-

Bensin PP : Rp. 30.000,-

Makan malam : Rp. 7.000,-

Lain-lain : Rp. 12.000,-

TOTAL : Rp. 99.000,-

Thanks to:

Taman Nasional Gunung Merapi

Taman Nasional Gunung Merapi

KP3 Primata

KP3 Primata

maskot-visit-jateng-2013_logo-a183