Puncak Suroloyo dan Curug Sidoharjo, Trip Mengejar Matahari

FSW dot COM

Akhirnya setelah lebih dari 2 minggu tidak ada pergerakan akhirnya ada sebuah perjalanan. Hal yang paling dinanti-nanti selam 2 minggu ini akhirnya terlaksana dengan semngat 45. Trip ini dibuat untuk sekedar “Dolan Bareng @bpijogja” atau “Main Bareng BPI Regional Jogja”. Tujuan main kita kali ini adalah Puncak Suroloyo dan Air Terjun Sidoharjo (Curug Sidoharjo).

Puncak Suroloyo berada di Desa Gerbosari, Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia. Sedangkan koordinat Puncak Suroloyo yaitu S7°38’50.2″ E110°10’48.1″. Bisa ditempuh dengan menggunakan sepeda motor atau mobil dengan kondisi kendaraan yang fit, karena kondisi jalan yang nanjak dan berkelok.

Untuk hari-hari biasa selain minggu dan tanggal merah TPR lebih sering tutup, jadi tidak ada retribusi masuk kawasan. Tarif parkir disini untuk sepeda motor sebesar Rp. 2.000 pada saat hari biasa. Fasilitas objek wisata ini terdapat beberapa warung makanan, toilet, pendopo, dan penginapan (tarif Rp. 120.000 / malam untuk 2orang). Sayangnya fasilitas mushola tidak ada disini, jadi harus sedikit turun kejalan baru bisa menemukan masjid.

Curug Sidoharjo terletak di Desa Sidoharjo, Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia. Untuk mencapai lokasi ini bisa melalui jalan yang menuju Puncak Surloyo. Kendaraan yang disarankan untuk kelokasi ini adalah sepeda motor, karena melewati jalan kecil tanpa aspal. Bisa menggunakan mobil tetapi harus jalan kaki cukup jauh dan memarkirkan mobil di masjid terdekat. Tidak ada retribusi masuk objek wisata disini, hanya biaya parkir sebesar Rp. 1.000 untuk sepeda motor. Fasilitas di objek wisata ini hanya tempat penitipan sepeda motor dan toilet saja.

Sabtu, 2 Maret 2013

Berangkat bersama dengan 12 orang teman Backpacker Indonesia Regional Jogja. Berawal dari meeting point jam 16.20 di Kantor POS besar 0Km yang semula jam 15.00 wib. Rute perjalanan melewati Jalan Godean ke barat kemudian masuk arah utara hingga bertemu perempatan yang ada tugu ditengah jalan. Berhubung banyak anggota yang salah jalan jadi saya dan rombongan belakang berhenti disini.

Setelah menunggu kurang lebih satu jam di kantor kelurahan terdekat karena turun hujan dan menunggu teman. Akhirnya kami semua berangkat dengan 11 orang menuju lokasi Puncak Suroloyo dan satu orang telah gugur karena takut akan kondisi jalan malam hari. Meski berkurang 1 orang tidak akan menurunkan semangat untuk sampai lokasi Puncak Suroloyo.

Ketika hampir sampai Suroloyo akan melewati jalan yang benar-benar rusak parah, tapi hanya beberapa ratus meter saja yang rusak. Selebihnya sudah bagus dan bahkan ada yang sudah dilapisi aspal baru. Pintu portal masuk kawasan wisata juga sudah tidak ada penjaga, karena kamis sampai sini sekitar jam 19.30 wib. Perjalanan yang sangat lama dibanding ketika saya survey yang hanya memakan waktu kurang lebih 2 jam.

Karena kemaren sudah minta ijin dengan suaminya Bu Dukuh, jadi saya harus ijin untuk kedua kalinya dan membayar iuran kas dusun tersebut (Ini semacam biaya ijin tempat selama satu malam). Berhubung tidak etis jika membayar tidak pakai amplop dan dari 11 orang tidak ada yang membawa amplop, akhirnya pakai kertas yang dilipat jadi sebuah amplop. Setelah mengisi buku tamu saya kembali kelokasi dan mulai mendirikan tenda.

Satu persatu tenda ukuran 6 orang kami dirikan dibawah remang-remang cahaya lampu jalan. Posisi tenda berada di depan warung milik Bu Dukuh. Akhirnya dua buah tenda berukuran 6 orang sudah terpasang. Kemudian mulai mengeluarkan alat masak dan bahan makanan (mie dan kopi). Selanjutnya makan malam bersama para jomblowan dan jomblowati disini, sambil ditemani desiran angin yang membawa sedikit kabut.

Selain makan mie dan minum kopi, kami juga sudah mempersiapkan ayam untuk di bakar. Dua ekor ayam yang sudah disiapkan dan sudah pula dibumbui ini mulai dikeluarkan. Sementara arang sedang dinyalakan dan dijadikan bara api saja. Berhubung angin cukup bertiup sepoi-sepoi jadi tugas tangan untuk mengipasi sedikit berkurang. Mulailah melumuri ayam satu persatu dengan margarin sekalian menunggu pembuatan tusuk ayam bakarnya.

Bara api mulai rata, ayam-ayam telah terlumuri dengan margarin dan tusuk bakaran sudah siap. Mulailah mengambil jatah masing-masing ayam dan mulai membakarnya. Suasana dingin berubah menjadi hangat dan bahkan panas ketika membakar ayam. Tidak Cuma ayamnya yang panas, tapi tangan si pemanggang juga memanas.

bakar-bakar ayam

bakar-bakar ayam

Setelah bakar membakar selesai kemudian di lanjut dengan membuat jagung sangrai alias pop corn. Nasting dilumuri dengan margarin dan kemudian dimasuki jagung popcorn lalu ditutup dengan nasting lainnya. Jika sudah keluar suara “pluk..pluk..pluk” berarti sudah mulai bereaksi dan satu persatu butiran jagung matang. Diaduk sedikit biar gak gosong dan matangnya merata. Kemudian disajikan diatas meja warung dan dimakan sambil main kartu disamping seduhan kopi susu.

Selanjutnya mencoba naik kepuncak nomor dua di Suroloyo ini dan menikmati pergantian hari dari atas sini. Terlihat begitu indah suasana lampu tepat pukul 00.00 dari atas sini. Pemandangan disini mengingatkan akan suasana puncak gunung dimana kedudukannya lebih tinggi dari lokasi ini. Lampu-lampu rumah pedesaan dan lampu jalan Jogja-Magelang terlihat seperti bintang-bintang.

Minggu, 3 Maret 2013

Turun dari puncak langsung nyari sisa-sisa kopi dan mulai memainkan lembaran kartu remi. Meja warung menjadi saksi permainan kami dan mulai tidur jam 02.00 pagi setelah menerima telepon sahabat kita dari Jakarta. Tiga orang tidur di kursi dan meja warung sedangkan yang lain tidur didalam tenda. Tidur kami diiringi oleh suara radio yang sedang menyiarkan wayang, kami tidak tau dari mana radio itu berasal.

Kami terbangun ketika mendengar suara adzan dari radio yang menyiarkan wayang semalam suntuk itu. Berhubung udara pagi ini begitu dingin, saya malas beranjak dari matras dan sarung yang saya kenakan. Tetapi berhubung tujuan kita disini untuk menyaksikan sunrise, ya mau tidak mau saya harus segera bangun. Satu persatu barang yang tidak dibawa dimasukan kedaam tenda semua baik tas, helm, kompor, gas, dll.

Kemudian setelah itu kami berangkat menuju puncak nomor 2 yang jalannya berawal dari tenda kami. Namun ketika sampai atas, ternyata matahari tertutup oleh puncak nomor 1. Akhirnya kami segera turun dan bergegas menuju puncak nomor 1 yang letaknya cukup jauh. Turun dengan berlari dan naik ke puncak nomor 1 dengan semangat yang menggebu-gebu.

Akhirnya tibalah kami di puncak nomor 1 dengan nafas yang terputus-putus. Sudah ada 2 orang yang hunting sunrise disini. Namun ketika melihat ke arah timur, sedikit mengecewakan. Mendung di ufuk timur sana menghalangi bundarnya matahari pagi ini. Tapi kami tidak putus asa begitu saja. Kami tetap menunggu hingga matahari muncul kepermukaan kumpulan awan.

menunggu munculnya matahri

menunggu munculnya matahri

masih di puncak suroloyo

masih di puncak suroloyo

suasana puncak 1 suroloyo

suasana puncak 1 suroloyo

Yang kami tunggu-tunggu pun kini mulai muncul sedikit demi sedikit kepermukaan. Kuning telur setengah mateng sudah mulai muncul dengan sinar yang begitu terang. Melewati awan yang berkumpul membentuk seperti kepala ular dan matanya bersinar dari pancaran matahari pagi. Segera kamera keluar satu persatu.

sunrise yang ditunggu-tunggu

sunrise yang ditunggu-tunggu

Setelah puas melihat sunrise saya kembali turun menuju tenda kami. Saya segera mengeluarkan alat masak dan mulai memasak mie. Sarapan pagi ini adalah mie dan makanan ringan. Setelah sarapan kami mulai zmemberesakan tenda dan menata barang bawaan. Satu-persatu tenda dirobohkan kemudian digulung.

beres-beres tenda

beres-beres tenda

Setelah semuanya selesai dikemas, saatnya berpamitan dengan Dukuh setempat. Disaat saya kembali dari rumah Bu Dukuh, warung yang saya gunakan untuk memarkir motor sudah buka. Kami diharuskan membayar Rp. 2.000 per motor. Setelah selesai berurusan dengan pembayaran parkir, kami langsung bergegas ke menuju Air Terjun / Curug Sidoharjo.

foto bareng sebelum menuju curug sidoharjo

foto bareng sebelum menuju curug sidoharjo

Perlu bertanya kepada beberapa penduduk untuk sampai ke Curug Sidoharjo. Karena orang yang sudah tau lokasinya juga sedikit lupa jalan dan diperparah lagi kami salah jalan pulang. Jalan  yang seharunya belok kanan kami justru lurus terus. Kami bertanya kepada penjual bensin ecer yang sudah tua renta itu. Dan kami pun diberi petunjuk untuk sampai di Curug Sidoharjo.

Kami berhenti di depan sebuah plang penunjuk jalan berukuran kecil yang menunjukan bahwa masjid dan curug Sidoharjo disebelah kanan. Tapi yang kami temukan hanya sebuah masjid dengan parkiran yang cukup luas. Mampir sebentar ke masjid untuk cuci muka dan buang air sambil melihat jalan di belakang masjid.

Ternyata masih ada jalan dibelakang masjid yang berupa jalan setapak. Akhirnya kami lalui jalan tersebut menggunakan sepeda motor dengan melewati kandang sapi dan sebuah turunan cukup licin dan sebelah kiri adalah jurang. Ternyata benar ini adalah jalan menuju curug Sidoharjo, karena terdapat sebuah rumah yang bertuliskan “TEMPAT PENITIPAN MOTOR DAN KAMAR MANDI”.

Tenda dan perlengkapan masak saya titipkan dirumah tersebut dan kemudian kami semua mulai treking turun. Kurang lebih berjalan 15 menit kita sudah sampai di air terjun / curug Sidoharjo yang memiliki tinggi lebih dari 30meter. Airnya tidak terlalu deras tetapi selalu ada dan berwarna sedikit coklat. Warna coklat dikarenakan didaerah ini masih termasuk tanah karts / tanah gamping dibagian dalamnya.

Curug Sidoharjo

Curug Sidoharjo

foto bareng di Curug Sidoharjo

foto bareng di Curug Sidoharjo

Akhirnya perjalanan dolan bareng Backpacker Indonesia Regional Yogyakarta harus berakhir disini. Kami beranjak pulang dari lokasi ini kurang lebih jam 09.00 dan sampai Kota Jogja kurang lebih jam 11.00. Rasa lelah terbayar dengan sebuah pengalaman baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

yang nulis nampang dulu di curug sidoharjo

yang nulis nampang dulu di curug sidoharjo

Melihat alam, merasakan suasana alam, dan hanya mengambil foto itulah yang hanya bisa kita ambil disebuah trip alam. Pengalaman dengan cerita berbeda disetiap perjalananlah yang bisa dibagi kepada teman-teman sebagai oleh-oleh. Jangan lupa jika ke Jogja mengunjungi Puncak Suroloyo dan Curug Sidoharjo yang terletak di Kabupaten Kulon Progo.

Budget:

Share Budget (Tenda, Alat Masak, Parkir 2 Objek) : Rp. 20.000

Bensin PP : Rp. 10.000

Makanan ringan, dll : Rp. 20.000

TOTAL : Rp. 50.000,-

Thanks to:

Backpacker Indonesia Regional Yogyakarta

Backpacker Indonesia Regional Yogyakarta

Kabupaten Kulon Progo

Kabupaten Kulon Progo

Visit Jogja

Visit Jogja