20 Kejadian #TripIbuKotaLowBudget

70-logo-enjoy-jakarta

Sekedar share pengalaman. Tanggal 8-12 Februari 2013 kemarin saya hijrah beberapa hari ke Ibu Kota Jakarta. Tidak ada niatan untuk jalan-jalan atau ngetrip ke objek tertentu. Saya hanya berniat keluar dari lingkup Jogja saja. Mungkin karena kepenatan di Jogja yang mulai merasuk dalam benak saya. Intinya  saya hanya mencari suasana baru untuk tidur dan mengisi hari-hari.

Kali itu saya berangkat bersama dengan @fafauzan yang pulang ke kehidupan perkuliahannya, @farisaeful yang sedang survey untuk Kerja prakteknya, dan @bayupauable yang mau nonton AC Milan Glory di GBK. Oiya masih ada juga saudara saya, yaitu mas Himawan yang mau ke Gintung bareng.

Jumat, 8 Februari 2013

Kejadian-demi kejadian mulai terjadi ketika kami sampai di Staisun Lempuyangan. Saya dan mas Hima sudah sampai di staisun pertama, kurang lebih jam 16.30 tepat kami sampai disana. Jam 16.00 saya sudah nyebar sms  ke @fafauzan , @farisaeful , dan @bayupauable untuk kumpul di depan ATM Staisun Lempuyangan.

Kejadian Pertama yaitu ketika @bayupauable mengira bahwa tiket kereta yang selama ini saya sms ke dia adalah tiket nonton AC Milan. Padahal saya tidak ada niatan untuk nonton AC Milan karena memang baru tau dan tidak ada modal untuk beli tiket. Dia mulai panik karena belum punya tiket nonton AC Milan ketika sudah sampai Stasiun Lempuyangan. Tapi untungnya dia ketemu dengan orang yang mau nonton AC Milan juga, akhirnya dia pesen tiket sama orang itu.

Lanjut ke Kejadian Kedua yaitu ketika waktu sudah menunjukan pukul 16.45 dan @fafauzan sama sekali belum menampakan batang hidungnya. Karena kami membawa barang banyak, akhirnya kita masuk dulu karena TOA staisun sudah teriak-teriak mengingatkan progo mau berangkat. Ini nih kejadian dimana @fafauzan yang seharusnya lebih membutuhkan menuju jakarta justru ketinggalan kereta.

Keadaan mulai panik ketika saya turun untuk balik ke peron karena tiket milik @fafauzan masih saya bawa. Satu kaki sudah keluar dan kereta berjalan, seketika saya langsung panik dan saya akhirnya kembali masuk ke kereta. Langsung angkat HP dan menelpon @fafauzan menanyakan lokasi, eh ternyata dia masih dijalan saat kereta sudah jalan juga. Saya yakin saat itu mukaku sudah tidak karuan karena efek panik. Apa lagi yang ketinggalan kereta. Penyelesaian kasus yang kedua ini yaitu @fafauzan ke Jakarta nik bis.

Selama di perjalanan hari ini saya tidak mengeluarkan biaya sedikitpun, karena semua sudah bawa bekal sendiri-sendiri kecuali saya. Yah namanya belajar hemat ya begini, modal minta siapa saja yang bawa makanan. Kereta Progo melaju dengan kecepatan standar dan tidak terlambat, tetapi masih tetap panas.

Sabtu, 9 Februari 2013

Kejadian Ketiga dan pertama untuk hari ini adalah ketika sudah hampir sampai Stasiun Bekasi kira-kira jam 01.00 pagi. Ketika @farisaeful dan @bayupauabel bingung mau turun St. Pasar Senen atau St. Jatinegara. Kejadian ini bermula ketika ada pernyataan bahwa jika turun di St. Pasar Senen ada temen untuk nongkrong, sedangkan jika turun di St. Jatinegara Cuma nongkrong berdua dan sedikit tidak aman. Dan perang argumen selesai setelah kurang lebih 30 menit berdebat. Hasilnya yaitu mereka turun di St. Jatinegara dan nunggu KRL jam 06.00 pagi.

Kejadian Keempat terjadi ketika saya dan mas Hima naik KOPAJA P20 naik dari depan Stasiun Pasar Senen menuju Terminal Lebak Bulus. Ketika itu saya bisa menikmati indahnya Ibu Kota Jakarta saat matahari terbit dan menyinari ujung tertinggi Monas. Memang yang namanya sunrise itu istimewa! Mau di puncak gunung, pantai, atap rumah, sawah, danau, bahkan diantara gedung-gedung bertingkat yang namanya sunrise itu best moment!

Kejadian Kelima terjadi ketika masih dalam KOPAJA P20 yang sudah penuh sesak dengan para pekerja keras Jakarta. Ketika itu tiba-tiba bis berhenti tepat dibelakang bis P20 lainnya. Kemudian kami semua disuruh turun dan pindah ke bis didepan, padahal bis didepan sudah cukup penuh. Akhirnya kebagian jatah berdiri, padahal sebelumnya sudah duduk manis bisa liat keluar menikmati pemandangan Jakarta. Disini saya sedikit kehilangan mood untuk menikmati perjalanan. Namanya juga berdiri, yang bisa dirasakan Cuma pegel.

Kejadian Keenam terjadi ketika turun dari angkot biru telur asin dari Terminal Lebak Bulus menuju Situ Gintung. Ketika turun dan masuk gang menuju Situ Gintung salah masuk gang, tapi untungnya gang tersebut tidak terlalu jauh. Setelah kembali kejalan yang benar, saya yang membawa kardus ini harus berjalan kurang lebih 800m menuju Tugu Situ Gintung. Minta jemput di Tugu ini, ternyata yang jemput baru bangun tidur. Hasilnya harus menunggu kurang lebih 10 menit sambil berjemur matahari pagi sekitar jam 08.00.

Tugu Situ Gintung

Tugu Situ Gintung

Kejadian Ketuju membuat saya sangat panik. Kejadian ini pertama kalinya  dalam hidup saya, bahkan si pemilik rumah pun baru pertama kalinya. Apa itu? Yaitu adalah banjir yang benar-benar masuk kedalam rumah. Keadaan bermula sekitar jam 2 siang, tiba-tiba hujan turun dengan deras diikuti dengan angin yang mendayu-dayu. Sekitar satu jam hujan belum berhenti dan Abid (saudara saya, penghuni rumah) keluar untuk melihat keadaan. Dan ternyata jalan didepan rumah sudah seperti sungai dengan aliran air yang cukup kuat untuk menghanyutkan balita.

Kejadian yang ekstrem terjadi ketika saya menyaksikan kontrakan didepan rumah sudah mulai kemasukan air banjir itu. Sambil mengamati dan memikirkan hal apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-tiba saya melihat ke arah pintu gerbang rumah bagian bawa. Air mulai masuk kedalam halaman melalui celah-celah bagian bawah pintu gerbang. Keadaan mulai bertambah panik ketika air dari halaman lama-lama meninggi dan masuk kedalam rumah. Sontak mengerahkan seluruh isi rumah untuk membereskan semua unsur yang ada dilantai, mulai dari kasur, karpet, kertas, hingga kabel-kabel yang berserakan.

Tambah panik lagi ketika air tambah tinggi dan masuk semakin jauh. Kira-kira tinggi banjir dirumah itu sudah mencapai 2cm. Pikiran sudah semakin tidak karuan, panik mulai menjalar dibenak. Tapi untungnya hujan segera reda dan air luapan tersebut mulai surut. Dan diakhiri dengan bersih-bersih rumah. Selesai bersih-bersih rumah minum teh panas dan makan cemilan sambil nonton AC Milan Glory. Saat-saat seperti ini yang membuat suasana semakin menyenangkan. (baru pertama kali banjir masuk kedalam rumah ini)

Kejadian Kedelapan terjadi ketika malam harinya, sekaligus sebagai keuntungan pertama dalam #tripibukotalowbudget. Yaitu saat yang ditunggu-tunggu oleh backpacker seluruh dunia. Apa itu? Itu adalah makan-makan (gratis). Meski makannya di Jogja ada banyak, tapi dalam kondisi diluar dari kota sendiri dan dibayarin. Rasanya begitu istimewa banget. Makan-makan gratis ini dilakukan di Waroeng Steak deket UIN Ciputat. Ini baru namanya moment, sikat yang double-double sekalian pakai nasi dan minumnya pake float. Memang gratisan itu rasanya nikmat bin istimewa!

Makan steak double

Makan steak double

Kejadian Kesembilan ini sedikit melirik keadaan pemuda Jabodetabek dan secara umum menyangkut Pemuda Indonesia. Kejadian ini terjadi ketika perjalanan pulang dari makan-makan, sengaja lewat jalan yang remang-remang dipinggir aliran Situ Gintung. Dengan sengaja nyorot pake lampu motor ke mahluk-mahluk pinggir jalan, sepertinya sih mahluk halus. Dan ternyata bukan, itu hanya sepasang “Paha Halus” bukan “Mahluk Halus” yang sedang nongkrong diatas motor dan dibawah pohon. Mereka berpose macem-macem mulai dari pose Jupe sampe pose Depe. (halah, namanya juga anak muda, masih dalam kewajaran. Haha)

Minggu, 10 Februari 2013

Hari ini diawali dengan olahraga pagi di Situ Gintung menyusuri jogging track. Dari sisi bagian pojok utara timur hingga ke bagian tambak ikan. Bertemu dengan gadis-gadis, pasangan suami istri, hingga anjing yang sedang jogging. Pulang dari jogging pagi dapat minuman susu UHT gratis. Kemudian dilanjut sarapan dengan ikan nila goreng cryspy gratis. Selanjutnya tidur siang hingga menjelang sore dan mulai panik ketika kejadian selanjutnya datang.

Jogging track Situ Gintung

Jogging track Situ Gintung

 Kejadian Kesepuluh ini sama dengan Kejadian Ketuju yaitu banjir datang (lagi). Tapi tindakan preventif segera dilakukan dengan sigap. Melakukan penyumbatan sela-sela bagian bawah pintu dengan kain pel dan seluruh kain lap. Kemudian mendorong air di teras menuju halaman dengan menggunakan sapu lidi hinggaair mulai surut. Alhamdulillah, hari ini air hanya rembes sedikit di bagian samping pintu saja dan tidak perlu ngepel seperti kemarin.

Kejadian Kesebelas terjadi setelah menanggulangi banjir sore ini. Diawali dengan secangkir coklat hangat produk dari Singapura dan beberapa buah bakpia. Kemudian setelah itu barulah keluar untuk makan, tujuan makan malam kita adalah di Pasar Modern Bintaro Jaya. Lewat beberapa mall-mall dan mampir sholat magrib di sebuah masjid yang cukup besar didaerah Bintaro. Kemudian barulah masuk ke lokasi Pasar Modern Bintaro Jaya untuk makan malam.

Kaki Lima Pasar Modern Bintaro Jaya

Kaki Lima Pasar Modern Bintaro Jaya

Berhubung disini banyak pilihan makanan dan minuman, dari yang asli jawa yaitu bakmi jawa sampai yang khas dari Negara Tembok Cina semuanya ada. Dari ujung keujung kami pilah dan pilih, hingga akhirnya berhenti di sebuah warung Bakmi Jawa Khas Jogja. Jauh-jauh dari Jogja akhirnya balik lagi makan magelangan. Selain itu masih nambah Sate Padang di sebelah warung ini. Tapi saya tidak pesen minum disini, mungkin karena bingung milih atau bagaimana juga tidak tau.

Sebenernya yang paling parah adalah efek setelah minum coklat hangat sore harinya. Bawaannya ngantuk terus, dari mulai masuk mobil, sholat magrib, bahkan pas makan magelangan yang panas pun masih ngantuk. Dan akhirnya saya terkapar lelap di perjalanan pulang, selama di mobil tidur terus dan sampe rumah juga langsung “MaBok” alias Mapan Bobok (memposisikan untuk tidur).

Senin, 11 Februari 2013

Hari ini sudah mulai mengeluarkan uang sendiri, karena hari ini saatnya jalan-jalan ke UI untuk bertemu teman-teman. Sekitar jam 10 pagi saya ke Terminal Lebak Bulus bersama saudara saya yang mau balik ke Bandung untuk kuliah. Sekalian mengantar, saya juga langsung pergi menuju Depok setelah bis yang dinaiki saudara saya berangkat. Dari Lebak Bulus ke Depok naik bis “DEBORAH” yang berwarna ungu janda. Dengan biaya Rp. 4.000 dapat tempat duduk tau-tau sampai Depok. Ketika saya naik, dilewatkan jalan TOL mungkin tidak semua bis “DEBORAH” masuk TOL.

Kejadian Keduabelas terjadi ketika saya menunggu jemputan si @fafauzan di halte bus UI samping stasiun UI. Disana saya melihat seorang gadis berkerudung lewat dihadapan saya. Sekilas saya berfikir “kayaknya kenal nih sama dia, tapi siapa ya?”. Sesaat setelah berfikir keras tiba-tiba saja dari sebrang jalan nongol si Farah sambil melambaikan tangan kecewe berkerudung tadi. Saya tetep stay cool aja didepan mereka. Dari pada sok kenal malah keliatan kalo orang desa.

Ternyata Farah liat saya duduk kemudian menyapa, dan cewe tadi itu temennya Farah dan temenku juga. Namanya Kurnia Nur Widya Utami atau sebut saja Uta. Setelah lama tidak bertemu malah dipertemukan disituasi seperti ini, ditempat umum dan dikota orang lagi. Mereka pergi duluan naik bikun (bis kuning UI) sementara saya masih nunggu jemputan.

Kejadian Ketigabelas yang katanya angka sial bagi beberapa orang yang percaya. Tapi tidak berlaku bagi saya, karena kejadian ketigabelas ini saya justru kenalan sama gadis UI. Bermula ketika @farisaeful dan @fafauzan mengajak saya untuk ikut take foto ke Perpustakaan UI. Saya sebenernya belum tau tujuan mereka kesana mau apa, saya tinggal ikut aja daripada mengurung diri dikamar kost temen.

Ternyata mereka mau take foto buat iklan kaos dengan model mahasiswi UI (bukan mahasiswa) Fakultas Kedokteran. Sebenarnya ini juga karena @fafauzan mengenalkannya, jika gak gitu mana berani saya kenalan sama itu gadis. Namanya Dinda, dia seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran UI.

Kejadian Keempatbelas ini mirip kejadian sebelumnya, karena disini saya juga kenalan (dikenalin lebih tepatnya) dengan mahasiswi Fakultas Kedokteran UI. Bedanya hanya dilokasi kenalan saja. Kali ini Warung Kopi menjadi saksi bisu dan penjual warkop menjadi saksi tidak bisunya. Sayang sekali saya lupa nama itu cewek, yang masih saya inget itu muka sama sikap asiknya. Padahal baru kenal di Warkop itu dan dikenalin sama @fafauzan pula. Menurut informasi, cewek tersebut adalah seorang penyanyi.

Kejadian Kelimabelas yaitu orang dari Jogja ke Jakarta (Depok tepatnya) akhirnya makan angkringan Jogja (lagi). Yah yang namanya diajak makan malam sama anak perantau dari Jogja ya bawaannya mau makan dilokasi yang serba Jogja. Bedanya disini harga tidak sama dengan angkringan yang ada di Jogja. Nasikucing sekitar Rp. 1.500 (beda Rp. 500 dibanding Jogja) kemudian yang kontras itu harga es jeruk disini Rp. 3.500 sedangkan di Jogja masih tetap Rp.  2.000 aja.

Kejadian Keenambelas terjadi tengah malam ini di Kopi Medan. Kejadian ini berawal dari pembicaraan Ramdan dan @fafauzan. Hasilnya adalah kita akan membuat trip ke Pulau Harapan di Kepulauan Seribu. Trip ini dikhususkan untuk para mahasiswa dari semua fakultas dan angkatan. Dilaksanakan sehabis Ujian Tengah Semester. Saya kebagian nyari pasukan dari Jogja dan sekitarnya. Yang menarik dari trip ini adalah namanya yaitu #PHPtrip (cari aja hastag tersebut di twitter) dan yang udah minat kebanyakan cewek-cewek UI (gila gak tuh).

Kedai Kopi Medan

Kedai Kopi Medan

Selasa, 12 Februari 2013

Kejadian Ketujuhbelas dimulai pukul 00.10 WIB setelah dari kedai Kopi Medan. Sibuk mencari-cari rental PS3 didaerah Kukel hingga mengunjungi 5 rental. 2 rental tutup, 2rental tidak punya PS3, dan 1rental PS3-nya lagi eror. Yasudah akhirnya beli mie mentah untuk dimasak dirumah Ramdan. Ini nih hal yang paling membuat sakit saat nge-trip “BEGADANG”. Dari kemarin pagi sampai sekarang pagi tidak tidur. Tapi saya paksakan untuk tidur jam 03.00 dan bangun jam 05.00 sedangkan si @fafauzan, Dimasgoner dan Ramdan baru tidur jam 06.00 setelah sholat subuh.

Kejadina Kedelapanbelas terjadi saat saya sudah di daerah Depok tepatnya di Perumahan Pesona Khayangan. Disini saya mengunjungi Flipbox Studio milik kakaknya @farisaeful. Disini saya numpang mandi setelah itu berangkat ke Stasiun Senen. Baru keluar dari gapura Pesona Khayangan tiba-tiba hujan turun, padahal sebelumnya mau ditraktir ke Sushi Miyabi dulu sebelum ke Stasiun Senen. Akhirnya gagal makan Sushi sore ini.

Rabu, 13 Februari 2013

Kejadian Kesembilanbelas terjadi dikereta bersama ratusan penumpang kereta Progo lainnya. Setelah melewati Stasiun Cirebon tiba-tiba kereta berhenti dan terlihat dikanan kiri kereta adalah hamparan sawah. Kami menunggu hampir sekitar 1jam dan menunggu 3 kereta jalan dulu. Kemudian ketika di Stasiun Prupuk kereta berhenti lebih dari 1jam dan baru berangkat jam 07.00 dari sini. Kejadian ini dikarenakan ada kereta barang tidak kuat nanjak ke Stasiun Bumiayu. Intinya kereta terlambat 4jam dari jadwal tiba di Jogja.

Kejadian Keduapuluh terjadi ketika kereta berjalan disekitar Bumiayu. Disana saya bisa melihat keindahan alam Indonesia bahkan hanya dari dalam kereta. Pemandangan entah gunung apa dengan kumpulan kabut yang menyerupai awan dikaki gunung. Seakan perjalanan kereta terjadi diatas awan dan berjalan mengitari gunung. Pertamakalinya saya mendapat pemandangan dari dalam kereta seindah ini. Terimakasih atas telatnya kereta Progo. Kejadian ini menutup rangkaian perjalanan dari #tripibukotalowbudget 2013.

Informasi Budget:

Kereta Progo Jogja – Jakarta  (PP)  : Rp. 80.000

Bis Kopaja P20 dari St. Senen – terminal Lebakbulus : Rp. 2.000

Angkot biru telur asin dari Terminal Lebakbulus – Situgintung : Rp. 2.000

Bis Deborah dari Terminal Lebakbulus – Margonda : Rp. 4.000

Makan di Warteg daerah Kukel : Rp. 6.000

Makan di Angkringan Jogja daerah Kukel : Rp. 7.000

Minum Teh Tarik di Kopi Medan : Rp. 8.000

Beli Susu UHT : Rp. 3.800

Angkot dari Margonda – St. Pocin : Rp. 2.000

Bajaj dari St. Cikini – St. Pasar Senen : Rp. 20.000 (untuk 2 orang)

Beli popmie di kereta : Rp. 6.000

Beli energen di kereta : Rp. 3.000

Makan siang di angkringan depan St. Lempuyangan : Rp. 5.500

TOTAL : Rp. 149.300

Thanks To: