Merbabu, Badai Pasti Berlalu!

Untuk kedua kalinya Saya mendaki gunung Merbabu 3142Mdpl. Pendakian pertama Saya pada bulan Oktober 2011 lalu. Jalur Wekas menjadi pilihan jalur pendakian kami. Jalur Wekas merupakan jalur terpendek menuju puncak dan di jalur ini terdapat mata air di POS 2. Kami menginap di basecamp lama atau lebih dikenal dengan basecamp Mbah Cip. Dibasecamp ini disediakan makan dan minum untuk para pendaki. Untuk menuju Basecamp Mbah Cip (Wekas) dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam dari Armada Town Square (Artos) Magelang.

Rabu 16 Januari 2013

Hari ini berangkat dari rumah pukul 17.00 menuju kontrakan Sundah dan Wahyu. Dikontrakan tersebut Saya packing dan menitipkan motor. Sehabis sholat magrib Saya dan Restu menuju meetingpoint yaitu di kontrakan keluarga cemara (Joni). Menurut informasi yang tersebar, seharusnya kami berangkat menuju Wekas sehabis magrib. Ternyata kami semua berangkat menuju Wekas jam 21.00.

Tiba-tiba dalam perjalanan ada satu motor yang balik ke Jogja lagi untuk ngambil senter. Kami memutuskan untuk menunggu di depan Artos (Armada Town  Square) kurang lebih selama 20 menit. Setelah bertemu kembali kami langsung tarik gas menuju Wekas.

Sedang menunggu di seberang jalan Armada Town Square

Sedang menunggu di seberang jalan Armada Town Square

Gerbang wekas telah terlewati beberapa meter, kami pun menghentikan motor untuk mendinginkan mesin. Jalan terjal masih menghiasi pemandangan di depan mata kami. Jalan begitu istimewa nanjaknya dan begitu rusaknya. Akhirnya kami sampai pada titik dimana semua motor tidak kuat nanjak boncengan, yaitu ketika mulai masuk hutan pinus.  Yang bonceng jalan kaki dan yang satu lagi pakai motor naik dulu. Ini yang menghambat cukup lama perjalanan kami.

Kamis 17 Januari 2013

Jam 01.00 tiba di basecamp Mbah Cip dengan keadaan lapar dingin dan ngantuk. Namun berhubung Mbah Cip sudah tidur, dua orang dari kami segera menjemput beliau dirumahnya. Kemudian setelah dijemput maka datanglah Mbah Cip dan cucunya dengan menaiki motor. Pintu segera dibuka dan kami semua pun memasukan tas carier yang  kami bawa. Kemudian satu per satu dari ke 12 motor dimasukan kedalam rumah. Ada satu motor yang menjadi korban keganasan jalan Wekas ini. Kondisi motor tersebut patah dibagian mono-shock.

Beranjak tidur jam 02.00 dengan memilih lokasi masing-masing. Saya memutuskan untuk mengambil matras sekaligus meminjam SB dan memilih lokasi di mushola. Dengan kondisi lampu disko alias nyala mati dan lebih sering mati menemani tidur saya pagi ini. Bangun tidur sekitar pukul 06.00 dengan kondisi kedinginan walaupun sudah menggunakan matras dan SB (mungkin efek lapar)  langsung mengambil air wudhu yang amat sangat dingin.

Sesudah sholat subuh, ternyata di meja sudah tersaji teh panas dan dua termos isi air panas. Tanpa pikir panjang langsung saya ambil itu teh panas (tapi sudahberubah jadi teh hangat) dan menuangkannya kedalam gelas yang sudah tercampur gula. Keluar dari basecamp sambil melihat pemandangan pagi ini disekeliling rumah. Terlihat sebuah gunung, tapi entah itu seonggok gunung apa , yang jelas begitu indah.

Akhirnya sekitar jam 08.00 makanan sudah tersaji dengan rap dimeja makan. Satu persatu dari kami mengambil nasi, telur goreng dan sayur tempe. Hangat-hangat nikmat, sajian sederhana pagi ini. Perut sudah diberi sesaji dan cuaca pagi inibegitu cerah, saatnya memulai treking menuju pos 2. Namun satu teman kami yang motor miliknya menjadi korban kerusakan jalan terpaksa turun dan tida melanjutkan pendakian.

Pendakian dimulai sekitar jam 09.30 dari basecamp Mbah Cip dengan cuaca mulai berkabut yang semakin tebal. 23 orang mulai berjalan menuju basecamp resmi untuk registrasi dan pendataan. Sebagian dari kami mulai berbelanja emblem Gunung Merbabu, begitupula saya.

Basecamp Mbah Cip (Sanggar Kiddal)

Basecamp Mbah Cip (Sanggar Kiddal)

Persiapan sebelum jalan

Persiapan sebelum jalan

Pendakian dimulai dari melewati rumah-rumah warga dan sawah-sawah warga. Mengikuti jalan desa yang tersusun dari batu-batu dan melintasi jalan dari konblok dengan kemiringan hampir 40° derajat. Berhenti dahulu disamping sebuah makam untuk berdoa bersama guna kelancaran perjalanan kami semua. Dengan jargon “Pancal” serentak kaki melangkah memulai treking pendakian Gunung Merbabu ini.

Satu jam perjalanan tiba-tiba terdengar gemercik air diantara tajuk-tajuk pohon. Mulailah satu persatu tetesan air hujan menyirami jalanan dan tubuh kami. Keputusan untuk berhenti dan memakai jas hujan adalah jalan yang terbaik. Habis itu hujan tambah menjadi-jadi walaupun tidak terlalu deras, tetapi terlalu dingin. Dilokasi ini kami bertemu dengan pendaki dari UGM juga yaitu dari fakultas Hukum yang hanya dua orang.

Berhenti hujan setelah 1 jam perjalanan, dan akhirnya kami bertemu dengan sang matahari dan  para kabut sudah pergi kalang-kabut. Terlihat bagaimana asiknya pemandangan dibawah sana bagaikan lukisan pelukis paling indah (Tuhan).  Sempatkan foto-foto dulu biar tidak rugi jauh-jauh datang kesini. Dari sini lokasi pos 2 alias pos pramuka sudah hampir dekat. Berjalan naik langkah demi langkah diikuti hembusan nafas yang begitu memburu menjadi keadaan yang selalu dirasakan.

kabut tebal setelah turun hujan sebelum pos 2

kabut tebal setelah turun hujan sebelum pos 2

Akhirnya tibalah dilokasi dataran yang cukup luas dengan banyak rumput alang-alang dan kami sebut ini pos pramuka (pos 2). Semua makanan ringan dan minuman kami keluarkan untuk makan siang kami, satu untuk semua dan semua untuk satu. Kompor harmoni alam mulai keluar (kompor spritus hand made) satu nasting cangkir juga keluar dan satu renteng kopi juga dikeluarkan. Mulailah eksekusi kopi rame-rame.

Kemudian mulailah membuka tenda dan memasangnya satu persatu, mulai tenda kapasitas 10 orang hingga kapasitas 3 orang. Kami hanya membawa 3 tenda yang berukuran 10 rang, 4 orang dan 3 orang (Padahal jumlah kami 23 orang). Setelah semua tenda berdiri mulailah membuka 3 kompor dan 3 nasting. Kali ini masak besar, hampir semua dari kami membuat mie (berhubung air disini melimpah).

sampai pos 2 rugi kalo gak foto-foto

sampai pos 2 rugi kalo gak foto-foto

Pendirian Tenda di POS 2 (Pos Pramuka)

Pendirian Tenda di POS 2 (Pos Pramuka)

Ambil kayu sisa-sisa api unggun untuk dijadikan api unggun lagi dengan tambahan kayu-kayu disekitar yang sudah kering. Bahkan kami juga telah merobohkan satu pohon dengan tinggi kira-kira 3meter tanpa menggunakan senjata tajam apapun dan hanya menggunakan tangan kosong. Malam sudah datang, api unggun masih tetap menyala, musik box masih dapat hidup dan cuaca cerah.

Memutuskan untuk tidur diluar tenda dengan menggunakan matras dan SB (Sleepingbag), karena cuaca tidak mendung dan tidak hujan. Ketika kami tidur dengan nyamannya, tiba-tiba datanglah air yang memukul-mukul SB kami. Sedikit melongok mengeluarkan kepala dan ternyata air hujan mulai bercucuran. Karena belum dirasa deras dan SB masih kering, kami belum beranjak dari tempat ini. Namun hujan semakin deras dan akhirnya kami kalangkabur mencari tenda yang masih bisa diisi walaupun harus tidur sambil duduk.

Jum’at 18 Januari 2013

02.00 waktunya bangun untuk muncak bro. Membangunkan semuanya dan mulai menyalakan kompor. Pagi ini jarak pandang sekitar 5 meter menggunkan senter, karena kabut begitu tebal. Masak mie instan untuk energi muncak kali ini. 2 orang pendaki yang dari fakultas hukum ikut gabung saat muncak (mereka tidak tau jalan). Makan sebungkus mie dan minum segelas kopi jahe membuat badan fresh lagi dan siap untuk muncak.

Berjalan bersama dengan 2 orang pendaki dari fakultas hukum, kami melewati semak-semak dan sedikit bingung karena jarak pandang yang sangat terbatas. Langkah demi langkah dan nafas demi nafas yang keluar menandakan medan cukup berat. Jalan dengan kondisi seperti tangga yang tinggi dan licin membuat pendaki dari fakultas hukum sedikit kehabisan nafas.

Berjalan sekitar 2 jam kami sampai di prasasti (geger sapi), dilokasi ini angin lebih kencang dan hujan mulai turun lebih deras. Tangan mulai merasa mati rasa dan kaki mulai bergetar. Berjalan mengikuti jalur yang sudah ada kemudian bertemu dengan semacam napak tilas berupa tulisan in memoriam. Berjalanan lagi menuju jalan turun dan melewati jalan yang banyak rumput, padahal untuk menuju puncak tidak ada jalan yang berumput. Akhirya perjalanan terhenti pada sebuah patok dengan tulisan puncak. Ternyata kami salah jalan, akhirnya kami kembali mencari jalan yang benar.

Tugu In Memoriam

Tugu In Memoriam

Menuju jalan yang benar ternyata cuaca semakin ekstrem, tapi kami tidak mimikirkan cuaca itu yang penting bisa sampe puncak. Sedikit diatas Jembatan Setan, kabut mulai menipis namun langit masih berkabut. Akhirnya kami sampai dipersimpangan sekitar 3 jam perjalanan dari pos pramuka. Disini kabut kembali memainkan perannya menutup jalan dengan sangat rapat.

Perjalanan menuju puncak Kenteng Songo tinggal 0,7 km lagi dengan jalan yang banyak bonus (datar). Berjalanan melalui tebing-tebing curam hingga jalan setapak kami lewati. Akhirnya sampailah di kejutan yang kami tunggu, rock climbing disisi tebing curam harus dilewati agar sampai puncak. Dengan rasa penasaran kami mencoba satupersatu melewatinya. Terpaan angin dari sisi tebing membuat kaki bergetar dan pikiran menjadi sedikit mencekam.

Disinilah saya merasa bahwa kami berada pada kondisi badai dipuncak Merbabu. Satu demi satu teman kami tidak bisa melanjutkan perjalanan disini dan harus turun segera. Satu diantaranya dikhawatirkan hipotermia karena tidak menggunakan jaket. Yang  masih kuat akhirnya lanjut memanjat tanjakan terakhir puncak Kenteng Songo. Dan akhirnya jam 07.00 sampailah saya dan teman-teman di puncak tertinggi Merbabu (Kenteng Songo).

Foto-foto di puncak kenteng songo

Foto-foto di puncak kenteng songo

Puncak Kenteng Songo

Puncak Kenteng Songo

Foto bersama Puncak

Foto bersama Puncak

Kabut tebal disertai angin kencang menerpa puncak

Kabut tebal disertai angin kencang menerpa puncak

Kami yakin dipuncak ini pasti badai akan berlalu, namun kondisi fisik kami tidak memungkinkan untuk menunggu badai ini berlalu. 20 menit dipuncak Kenteng Songo dengan kondisi Badai memiliki pelajaran yang sangat mendalam. Merasa lemah dibanding kekuatan alam, Merasa sangat lemah dibanding dengan kekuasaan Allah SWT.