Trip Ujung Timur Pulau Jawa Berakhir di Surabaya

masih dalam TRIP UJUNG TIMUR PULAU JAWA

 

Rabu, 2 Januari 2013

Awal hari ini dimulai dari dalam mobil travel ini, dengan rasa lelah dan kesempitan. Akhirnya mobil ini sempat berhenti disebuah rumah makan 24jam dan kami tidak ada yang makan. Berhubung sudah terlihat aroma kemahalan, saya memutuskan untuk tidak membeli apa-apa disini dan hanya numpang buang air saja. Benar saja mahal, teman saya ada yang membeli minum 2 botol dengan harga mencapai belasan ribu. Perjalanan dilanjutkan kembali dan kebanyakan dari kami tidur kembali untuk mengistirahatkan badan yang masih lelah.

Adzan subuh sudah terdengar dari dalam mobil dan aroma Surabaya Gubeng sudah tercium. Menuju stasiun Gubeng Pojok kami disambut dengan dua sosok banci sexy dipinggir jalan yang melambai-lambai. Untung saja kami tidak berhenti didekat kedua banci itu, bisa-bisa kami semua tidak keluar dari mobil. Turun dengan suasana ngantuk yang dibangunkan dengan gerimis kecil kami membayar ongkos travel. Memilih meneduhkan barang-barang di depan koperasi haji sambil menunggu teman kami yang kekamar kecil dan sholat.

Setelah semua kembali kami menuju mushola yang terletak didekat Alfamart dan pos polisi  untuk sholat subuh dan membuang semua hajat yang mau keluar. Suasana Surabaya pagi yang begitu menyegarkan dan dingin membuat perut kami lapar. Memilih lokasi memasak mie didekat pos polisi dipinggir jalan. Kompor dan nasting segera kami keluarkan kemudian diletakan diantara tas carier kami. Air mineral yang baru saja dibeli langsung dituangkan kedalam nasting, sementara ada yang menuangkan serbuk energen kedalam gelas. 2 gelas energen panas pun siap disajikan ditambah dengan madu sebagai rasa-rasa. Sisa air mendidih lalu digunakan untuk membuat 3 bungkus mie untuk 9 orang.

Lambang Kota Surabaya dengan jajaran gedung-gedung bertingkatnya.

Lambang Kota Surabaya dengan jajaran gedung-gedung bertingkatnya.

Dari dalam pos polisi ada seorang oknum polisi yang melihat dengan heran kegiatan kami diluar pos. Akhirnya saya masuk dan meminta ijin untuk beristirahat dan memasak mie di pos polisi tersebut. Akhirnya kami mendapat ijin beristirahat disini, tetapi kami harus memindahkan barang-barang kami ke belakang pos polisi. Di belakang pos polisi kami memasak 3 bungkus mie lagi, tapi kali ini ditambah dengan lontong, kerupuk, dan sambal ikan teri. Biar adil dan merata ada teman kami yang membeli kertas minyak untu pengganti piring. Pembagian makanan dimulai, sat-persatu dari kami mengambil mie dan sepotong lontong yang di letakan diatas kertas minyak. Tidak ada sendok tangan pun jadi, pepatah ini yang kami terapkan kali ini untuk makan lontong dan mie pakai tangan. Kami beri nama sajian sarapan ini dengan sebutan “Lontong Mie Gubeng”.

Menunggu kereta berangkat selama 6 jam memang membosankan jika hanya duduk di pos polisi saja. Akhirnya kami berinisiatif untuk mengitari daerah disekitar Gubeng Pojok dan berharap bertemu dengan penjual lontong balap. Jam 9 tepat kami menitipkan barang-barang kami di pos polisi dengan alasan mau masuk kedalam mall. Dengan alasan tersebut kami dapat menitipkan barang-barang kami. Ikan hiu ikan cucut, yuk mari lanjut. Menyeberang jalan dan melintas diatas sungai harus kita lewati dengan senyuman. Terik matahari mulai terasa membakar kulit-kulit kami, tetapi tak menyurutkan untuk tetap berjalan ditengah kota Surabaya. Mampir sejenak didepan sebuah Monumen Kapal Selam untuk mengabadikan gambarnya. Kami tidak masuk kedalam Monumen karena kami telah melirik tiket masuk sebesar Rp. 5000. Bukannya tidak punya uang, tapi rasanya berat sekali ketika harus membuka dompet dan mengeluarkan uang 5000 hanya untuk berfoto.

Monumen Kapal Selam

Monumen Kapal Selam

Jalan lagi menuju mall Delta Plaza yang kondisinya masih tutup mulai dari tempat parkir hingga pintu masuk. Nganggur nunggu harapan ada yang mau membelanjakan isi dompetnya untuk 9 potong Bread Talk. Ternyata tokonya belum buka dan katika mall Delta Plaza buka pun Bread Talk juga belum buka. Terpaksa hanya duduk dipinggir jalan sambil melihat-lihat jalanan dan mobil yang masuk ke mall. Ada satu teman saya yang masuk kedalam mall hanya untuk ke kamar mandi, dan ternyata masuk kamar mandi harus bayar. Sejenak saya terheran-heran dan sedikit tidak percaya. Dari pada saya tambah bingung, saya usulkan untuk mencari makan siang lontong balap disekitar situ. Berjalan memutari luar mall Delta Plaza dan Grand City berharap ada penjual lontong balap dan hasilnya nihil. Akhirnya langkah kami terhenti disebuah warung makan dekat dengan mushola dan pos polisi yang semula saya hindari. Memesan nasi rawon ternyata tidak rugi, meski nasi hanya sedikit tapi rasa rawonnya luar biasa enak.

Akhirnya waktu sholat dzuhur pun tiba dan kami semua sholat secara bergantian, karena mushola tidak cukup untuk jamaah lebih dari 5orang. Setelah semua siap kami lantas mengambil titipan kami di pos polisi kemudian langsung menuju pintu stasiun Gubeng. Disini kami belum boleh masuk sebelum kereta datang, ya terpaksa kami menunggu diluar saja karena didalam sangat penuh. Selain itu kami juga menunggu satu teman saya yang sedang salah posisi di Staisun Gubeng bagian masuk kereta bisnis dan eksekutif. 30menit menunggu dan akhirnya dia datang bersama kakaknya, tetapi kebanyakan dari kami tidak percaya bahwa itu kakaknya. Akhirnya kurang 15 menit dari jadwal kereta tiba, kamipun masuk kedalam dengan menunjukan bukti KTP.

Suara bapak-bapak penghuni TOA sudah menyerukan bahwa kereta Gaya Baru Malam Selatan telah tiba dan kami dipersilahkan masuk. Satu persatu sambil menunjukan bukti berupa tiket kami diperbolehkan mendekati kereta. Kami menduduki gerbong 6 yaitu gerbong paling belakang sebelum gerbong barang. Gerbong 6 dari surabaya sangat sedikit penumpang, tidak sampai 50% terisi. Namun ketika perjalanan disetiap stasiun, gerbong 6 selalu ada yang naik. Semakin banyak yang naik bahkan ada yang rombongan ziarah dari pulau Bali. Walaupun suasana gerbong ramai tapi kami semua menikmati perjalanan kami. Satu persatu dari kami tertidur akibat rasa lelah yang tak tertahankan.

Penantian Gaya Baru Malam dan Si Cetar Membahana

Penantian Gaya Baru Malam dan Si Cetar Membahana

Sampai di staisun Madiun kami semua memborong Nasi Pecel Madiun sebanyak 12 bungkus ditambah 2 bungkus peyek untuk 9 orang. Perjalanan kembali dilanjutkan hingga menuju Jogjakarta ditemani hujan yang rintik-rintik. Tiba di stasiun Lempuyangan terlambat 30 menit dari jadwal semula dan disambut dengan hujan yang cukup deras. Akhirnya ibu saya yang baik hati mencarterkan mobil Elf untuk mengantar kami pulang ke kost dan rumah. 9 orang masuk semua dan tanpa kesempitan lagi.

Disinilah akhir dari perjalanan Trip Ujung Timur Pulau Jawa yang memberikan banyak kenangan, pembelajaran, hiburan, dan semangat KORSA RIMBAWAN. Terimakasih untuk semua rekan-rekan yang telah berjasa dalam perjalanan saya dan kalian. Semoga akan ada lagi dan lagi perjalanan rimbawan menjelajahi daerah-daerah ekowisata di Indonesia. Kemanakah Trip Selanjutnya?😀

 

Terimakasih untuk Tuan Rumah:

Arif Widodo

Wiwid Prayoga

Yogi Alro Aliando

Gustiari

Yuniar

Yohanes Danang

Joki

Terimakasih untuk Password:

Erytrina

Siska Alvianti

Terimakasih untuk Rekan Seperjalanan:

Yusuf Setia 

Mahfudz Tantaryzad

Odang

Sundah

Wakmel

Fadhlul

Terimakasih Untuk Saya Sendiri ;

Farid Sancoyo Widagdo

Special Thanks to:

Taman Nasional Alas Purwo

Kawah Ijen

 

Kabupaten Banyuwangi

 

Kabupaten Surabaya