Dari Kawah Ijen untuk Dunia

masih dalam TRIP UJUNG TIMUR PULAU JAWA

Selasa, 1 Januari 2013

Masih dalam suasana gaduh suara kembang api di camping area Ijen. Nyala kembang api saling bersautan satu dengan yang lainnya selama kurang lebih 30 menit. Pukul 01.00 saya memutuskan untuk tidur, karena mata saya sudah tidak sanggup lagi untuk begadang. Mengambil posisi dibawah bivak dengan ditemani angin sepoi-sepoi. Sesekali saya terbangun dari tidur saya karena tiupan angin semakin kencang masuk kesela-sela kaki saya. Dan akhirnya tepat jam 02.30 kami semua bangun untuk memberesi tenda dan dimasukan kedalam pickup.

Masing-masing dari kami mendapat bagian kerja, mulai dari urusan bongkar tenda, bongkar bivak, cek alat-alat dan mengangkut barang ke pickup. Sehingga pekerjaan beres-beres ini selesai dalam waktu 30 menit. Pagi ini kami semua akan treking menuju puncak kawah ijen dengan harapan dapat melihat pemandangan sunrise. Sebelum melakukan treking kami berdoa terlebih dahulu agar diberi kelancaran dan keselamatan. Suhu udara yang dingin dengan tiupan-tiupan angin lembah dan cahaya bulan menemani perjalanan kita pagi ini. Hampir seluruh orang yang berada pada camping area melakukan treking pada pagi ini. Jalan yang diterangi cahaya bulan menjadikan senter tidak terlalu berfungsi.

Berjalan santai sambil menikmati pemandangan bawah gunung yang nampak cahaya-cahaya lampu dan menemani perjalanan penambang belerang. Normalnya treking dari camping area hingga puncak ijen 2,5 jam, sedangkan kami hanya memerlukan waktu 50 menit. Para penambang lebih sering kami jumpai pada pos penimbangan belerang. Disini kami menyempatkan istirahat sebentar sambil melihat kegiatan penimbangan belerang. Dari tempat penimbangan belerang ini, puncak tinggal 15 menit perjalanan. Perjalanan menuju puncak terasa begitu asik ketika kabut tebal mengepung sehingga  membatasi jarak pandang kami.

Pos Penimbangan Belerang

Pos Penimbangan Belerang

Sedikit terang kami sempatkan untuk mengambil foto dan merekan video puncak dan kawah Ijen ini. Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, landscape gunung dan kawah begitu terlihat sexy. Perpaduan warna abu-abu, coklat, hijau, putih, dan biru membuat pemandangan puncak semakin istimewa. Hampir 2 jam lebih kami dipuncak Ijen hanya untuk melihat pemandangan  dan mengabadikannya. Sebuah pencapaian luarbiasa sejak sekian lama saya menanti menginjakan kaki di puncak Kawah Ijen dan akhirnya saya telah melakukannya saat

Kawah Ijen tampak cantik

Kawah Ijen tampak cantik

masih di Kawah Ijen

masih di Kawah Ijen

gaya seorang penambang belerang

gaya seorang penambang belerang

bagian atas Kawah Ijen

bagian atas Kawah Ijen

ada satu yang merupakan penambang belerang. yang manakah itu?

ada satu yang merupakan penambang belerang. yang manakah itu?

Langit cerah tiba-tiba muncul awan kehitam-hitaman menandakan akan turun hujan. Saat itu kami langsung kembali turun karena akan menyambangi salah satu teman kami di Kota Banyuwangi. Perjalanan turun lebih ramai dibanding perjalanan naiknya, banyak wisatawan lokal amupun asing sedang naik pada jam-jam ini. Normalnya perjalanan turun dapat ditempuh dalam waktu 1,5 jam, namun kami dapat melakukannya hanya dalam waktu 30 menit. Kurang lebih untuk naik dan turun kami memakan waktu 1,5 jam perjalanan.

Sesampainya di camping area kami langsung menuju tempat parkir  dan beristirahat sebentar disini. Setelah mesin mobil panas dan semua barang sudah ditata dalam pickup, kami langsung jalan. Sedikit gerimis menemani perjalanan turun gunung kami. Jalan licin dan sempit menjadi rintangan tersendiri. Sesampainya di Kota Banyuwangi kami langsung menuju salah satu rumah teman kami. Disana kami menunggu kepastian untuk mampir rumah teman dan menukarkan tiket kereta. Sambil beristirahat sambil ngemil snack dan minum air putih.

kondisi setelah turun gunung saat berisitrahat di lokasi parkir Kawah Ijen

kondisi setelah turun gunung saat berisitrahat di lokasi parkir Kawah Ijen

Rumah kedua yang kami satroni ini menyuguhkan makanan khas Banyuwangi yang super pedas, namanya nasi tamplong  kalau tidak salah. Makanan ini berisi nasi putih, sayur sawi, tempe goreng, tahu goreng, timun, ikan asin, dan yang pasti satu plastik sambal. Jangan pernah ngomong enak sebelum mencoba, kami buka sambalnya dan kami cicipi. Ternyata rasanya membuat mata mengeluarkan air, hidung meler, nafas terengah-engah super pedas pokoknya. Ini namanya sajian istimewa yang memberi kejutan cetar membahana. Untungnya setelah makan ini kami diberi semangka segar, mungkin tujuannya untuk obat penawar pedes kali. Tapi semangka jadi terasa istimewa.

kebersamaan dalam kelaparan setelah satu tahun tidak makan

kebersamaan dalam kelaparan setelah satu tahun tidak makan

ini dia sisa-sisa nasi tamplong

ini dia sisa-sisa nasi tamplong

Setelah makan dengan kenyang kami berpamitan dengan sipemilik rumah. Dan ketika satu-persatu dari kami mengambil sendal, tiba-tiba ada salah seorang yang meakukan suffle (sebut saja terpeleset). Akibat dari tidakan itu, sipemilik rumah sekeluarga mentertawakannya. Begitupula kami, kejadian tersebut dijadikan topik pembicaraan kami selama diperjalanan.  Setelah dari sini kami menuju rumah kawan kami didaerah Kecamatan Srono. Lokasinya cukup jauh dari Kota Banyuwangi, kurang lebih 1 jam perjalanan. Sesampainya dilokasi kami dipersilahkan duduk dan diberi sebuah sajian snack kering. Namun sajian istimewa disini adalah es campurnya yang begitu menyegarkan. Berhubung kami sudah kenyang oleh “nasi tamplong”, dirumah ini kami tidak makan. Dan akhirnya jalan-jalan kita hari ini harus berakhir disini, setelah dari sini kami menuju basecamp Benculuk.

Mandi adalah hal paling utama dan wajib kali ini, karena sudah satu tahun tidak mandi (terakhir mandi tanggal 31 Desember 2012). Sementara yang lain packing persiapan pulang, saya menuju kamar mandi untuk menyegarkan badan. Begitu selesai mandi badan terasa lebih enteng, muka terasa lebih segar dan saatnya tidur sore. Sore ini saya benar-benar terasa ngantuk berat serasa mata 5 watt dan badan sedikit terbang.  Saya putuskan untuk terlelap tidur sementara teman-teman yang lain melakukan aktivitasnya masing-masing. Selama tidur sore ini, saya tidak tau apa yang harus saya ceritakan karena tidak tau apa yang terjadi dengan teman-teman saya. Sempat bangun untuk sholat magrib dan kembali tidur lagi hingga jam 22.00 ketika jemputan travel datang.

Dengan kondisi setengah sadar saya melakukan sholat isya dan kemudian bergegas menuju mobil travel. Justru saya menjadi sadar 100% ketika melihat mobil travel yang berupa Daihatsu Luxio. Tidak biasanya saya melihat travel dengan bentuk seperti ini, apalagi kami 9 orang. Benar-benar terasa sempit ketika kami satu-persatu masuk kedalam mobil. Tidak terbayangkan perjalanan 6 jam kami menuju surabaya akan seperti ini, walaupun begitu saya mengucapkan terimakasih kepada teman saya yang sudah mencarikan travelo ini. Posisi kami didalam mobil sama dengan posisi pemain bola yaitu 4-4-3. Berhubung kondisi mengantuk dan lelah, kesempitan ini tidak kami rasakan.

*Bagaimanakah hari selanjutnya?? Baca selengkapnya di TRIP UJUNG TIMUR PULAU JAWA BERAKHIR DI SURABAYA

Video Perjalanan Hari ini: