Tahun Baru dalam Pangkuan Hangat Kawah Ijen

masih dalam TRIP UJUNG TIMUR PULAU JAWA

Senin, 31 Desember 2012.

Hari inilah tujuan utama kita berada di banyuwangi, hari inilah yang akan menjadi penutup perjalanan di Banyuwangi kali ini. Sebuah tempat yang kami tunggu-tunggu setelah beberapa hari di Banyuwangi. Sebuah tempat untuk menghabiskan detik-detik pergantian tahun 2012. Sebuah tempat dimana kita bisa berbagi waktu dengan alam. Kawah Ijen lah yang tepat menjadi tempat menyongsong detik pertama tahun 2013.

Pagi ini kami banyak yang bangun tidur terlambat dari pada biasanya. Bahkan saya sholat subuh jam 6 pagi, padahal biasanya jam 05.30 pagi. Berhubung jumlah kamar mandi hanya ada satu untuk 10 orang dirumah tersebut. Disini menganut prinsip siapa cepat dia dapat, namun berhubung penghuni rumah ini pemalas semua (termasuk saya) ya tetep aja tidak ada perebutan. Kami semua selesai mandi sekitar jam 08.00 pagi dan dilanjutkan dengan sarapan terlebih dahulu. Karena hari ini kita akan ngecamp di Ijen, jadi makan sebanyak-banyaknya terlebih dahulu sebelum berangkat. Kami menunggu salah satu teman kami dari Jember disini, sambil menunggu jemputan mobil pickup oleh 2 orang teman.

Mobil pickup sudah datang, teman dari Jember juga sudah datang, dan saatnya untuk mempersiapkan perjalanan. Melihat keadaan cuaca di Banyuwangi yang selalu hujan setiap sore, maka kami membuat sebuah bivak dari terpal yang diletakan diatas pickup. Bermodal terpal, bambu milik tetangga, dan satu gulung tali rafia untuk mendirikan sebuah bivak. Setelah bivak sudah siap dan kuat, saatnya menaikan barang-barang kedalam pickup sekaligus berpamitan dengan si pemilik basecamp. Perjalanan menggunakan pickup dari Benculuk menuju camping area Ijen dimulai dari jam 1 siang. Sebelum sampai ke camping area Ijen, kami mampir sebentar di Kota Banyuwangi. Ada satu teman kami yang sudah menunggu kami disini. Setelah bertemu kami bergegas menuju camping area Ijen.

Kendaraan yang mengantarkan kami ke Kawah Ijen

Kendaraan yang mengantarkan kami ke Kawah Ijen

Masukan barang-barang ke dalam pickup Curah Jati

Masukan barang-barang ke dalam pickup Curah Jati

Kondisi yang kami rasakan selama perjalanan berjam-jam

Kondisi yang kami rasakan selama perjalanan berjam-jam

Kurang lebih 1,5 jam perjalanan dari Kota Banyuwangi untuk sampai di camping area Ijen. Sesampainya di parkiran kami semua keluar dari bivak, gerimis sedikit menemani baju kami. Mencari lokasi berteduh untuk makan sore yang seharusnya makan siang. Akhirnya kami mendapatkan sebuah lokasi nyaman untuk makan siang, yaitu di sebuah payung besar dengan tempat duduk dibawahnya. Plastik isi nasi bungkus segera dikeluarkan, sendok dalam plastik segera dibagikan, dan air minum 1,5 liter siap dibuka. Suasananya mantap bener dah, makan sore ditemani hujan rintik-rintik dan buah melon.  Setelah bungkus makanan siap dibuang yang menandakan bahwa sudah selesai makan, kami mulai membuka buah melon segar. Dengan bermodal 1 pisau besar dan 2 pisau lipat, kami membagi 1 buah melon menjadi 12 bagian. Habis makan sore dilanjut makan buah, rasanya seperti menemukan es buah di padang pasir.

Malam sudah mulai melirik kebumi, gerimis sudah mulai berhenti, dan makanan sudah habis. Bergegas menurunkan tenda dari dalam pickup dan mencari lokasi terbaik untuk mendirikan tenda. Kita memutuskan untuk mendirikan tenda disamping sebuah tenda yang telah berdiri disebelah warung makan. Disini lokasinya cukup strageis, yaitu dekat dengan kamar mandi, mushola, warung, dan tempat parkir. Namun ketika kami berhasil mendirikan sebuah tenda disitu, tiba-tiba datanglah sesosok laki-laki yang lebih tua dari kami.  Laki-laki tersebut memerintahkan kami untuk memindahkan tendanya dari sini, karena disini digunakan untuk pos pemantauan. Dengan sedikit membuang rasa malu kami mengangkat tenda kami yang sudah jadi untuk dipindahkan ke lokasi camping area. Kejadian ini sedikit membuat saya seperti pembawa acara yang salah ngomong.

Tenda berhasil dipindah ke lokasi camping area dengan kondisi masih utuh. Kami memilih lokasi di yang agak datar dan ada tanah bekas api unggun. Ketika kami mulai mengeluarkan tenda yang satu lagi, tiba-tiba datang sesosok mahluk tidak jelas menghampiri kami. Orang cukup tua dan sedikit menyebalkan (mukanya pengen saya masukan api unggun) menyuruh kami untuk memindahkan (lagi) tenda kami. Alasannya sih disitu nanti mau dibuat api unggun dan kalo terlalu dekat bisa membakar tenda kami. Kalo dipikir-pikir kenapa gak cari tempat api unggun lain. Sebagai sekumpulan orang baik, kami burut saja denganperkataannya dan kami pindahkan tenda kami.

Lokasi sudah oke dan tidak ada yang protes untuk menggusur kami, saatnya mendirikan tenda yang satunya. Akhirnya dua tenda telah berdiri yang disambut dengan turun hujan lagi. Segera dua tenda itu terisi oleh saya dan teman-teman saya yang tadi mendirikan tenda. Berhubung tenda kami berkapasitas 5 orang dan 3 orang, sedangkan yang ada disitu 12 orang. Diputuskan untuk membuat bivak diantara 2 tenda tersebut. Pemimpin pembuatan bivak adalah saudari Odang yang sudah berpengalaman dan anggota dari MAPAGAMA. Sip bivak telas selesai dan saatnya kini untuk bakar-bakaran.

Bangun tenda di Camping  Area Kawah Ijen

Bangun tenda di Camping Area Kawah Ijen

Yang ini bikin bivaknya (penggagas bivak yang pake kerudung)

Yang ini bikin bivaknya (penggagas bivak yang pake kerudung)

Dua orang dari kami mencari kayu di hutan sebelah camping area bermodalkan sebuah pisau besar. Karena sore itu diguyur hujan, maka kayu-kayu yang didapatkan juga masih basah semua. Disinilah peran seorang MAPAGAMA digunakan. Keahliannya dalam menyelesaikan masalah-masalah tentang bertahan hidup sangat diandalkan. Mulailah menyusun kayu-kayu menjadi kerucut, merobek-robek kertas dus yang berisi makanan lalu membakarnya dibawah susunan kayu kerucut tersebut. Sedikit-demi sedikit kayu mulai kering dan sudah bisa keluar bara api. Saya mengambil satu botol spritus dan menuangkannya dalam tutup botol, kemudian menyiramkannya keatas tumpukan kayu tersebut. Kemudian masih saja belum bisa menyala dengan sempurna, dan kembali potongan kertas-kertas dibakar. Untuk yang kedua kalinya saya menuangkan spritus kedalam tutup botol, namun kali ini sedikit tumpah ke punggung tangan saya.

Tangan mulai menuangkan spritus dalam tutup botol ke api unggun, dan ternyata tangan saya yang terlumuri spritus ikut terbakar. Tanpa saya sadari tangan saya terbakar dan saya mengibas-ibaskannya namun tidak mati. Akhirnya tangan saya, saya jepitkan antara padah dan betis dan akhirnya apinya mati. Sedikit lega karena sebuah insiden kecil telah terselesaikan. setelah api unggun menyala, kami mulai membakar kerang yang sudah kami persiapkan. Satu persatu kerang dimasukan kebara api dan satu persatu pula dikeluarkan untuk dimakan. Kerang tanpa bumbu dan tanpa dicuci itu sungguh sangat luar biasa enaknya ketika dimakan beramai-ramai.

Kerang sudah habis dan api unggun sudah mulai mati. Saya memutuskan masuk kedalam tenda dan tidur sejenak. Sementara saya masih dalam keadaan setengah sadar didalam tenda, teman-teman yang lain justru mulai masak mie. Akhirnya saya putuskan keluar lagi dan ikut memasak mie. Setelah masak mie semua ambil posisi tidur, ada yag ditenda dan ada yang di pickup. Tinggal 3 orang ternasuk saya yang masih diluar tenda dan memainkan api unggun lagi. Hingga akhirnya terdengar suara sirene yang menandakan munculnya tahun baru.

Semua yang tidur dibangunkan dan berkumpul di lapangan bersama-sama. Kembang api mulai meluncur naik secara bergantian mewarnai langit yang cukup cerah ditemani cahaya bulan. Para gank motor membunyikan motornya dengan keras dan sama sekali tidak berirama. Merusak suara dari letusan kembang api. Namun suasana masih tetap meriah dengan cuaca yang cerah.

*Bagaimanakah hari selanjutnya?? Baca selengkapnya di DARI KAWAH IJEN UNTUK DUNIA

 

Video Perjalanan Hari ini: