Sabtu, 15 Desember 2012

Perjuangan terakhir dimana kumpulan latihan menjadi satu membuatku semakin mengerti akan pentingnya pelajaran ini. Pelajaran akan kenyataan dilapangan disajikan dalam bentuk abstrak-abstrak gambaran aslinya. Walaupun sesungguhnya mudah, tetapi pada kenyataan ujian abstrak ini hasilnya kurang dari sempurna. Seperti si buta yang diajarkan menulis, seperti si tuli yang diajarkan mendengar, dan si bisu yang diajarkan berbicara.

Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yaitu mahir dan lemah. Dan di hari ini Aku merasakan ini semua lemah, ya Aku lemah disini. Mungkin bagi kebanyakan manusia ini mudah, tetapi bagiku ini sebuah perjuangan berat. Aku memiliki keyakinan bahwa semua itu bisa aku jalani dengan mudah tanpa suatu hambatan seperti perjuanganku sebelumnya.

Tapi kali ini dan untuk pertempuran ini Aku merasa seperti anak Sekolah Menengah Pertama yang dijejali pelajaran Sekolah Menengah Atas. Aku bisa memenangkan pertandingan ini, dengan satu syarat yaitu membawa sebuah panduan. Aku bukan bodoh, namun belum menguasai dengan sempurna. Karena manusia didunia ini tidak ada yang terlahir bodoh. Pasrah yang harus Aku lakukan saat ini.

Dalam sebuah cerita pasti ada yang namanya senang dan susah. Pagi ini mungkin Aku merasakan kesusahan atau lebih dekat dengan keterpurukan. Namun siang ini aku merasakan ada yang beda ketika ada suara yang menyapaku secara tiba-tiba. Bukan karena dikejutkan, namun setelah sekian lama tidak mendengar dan melihat sosok ini. Sebuah rasa pengganjal muncul dengan tiba-tiba, kesalahan tindakan yang seharusnya tidak kulakukan justru lepas kendali.

Lebih nyata melihat sosok itu menjadikanku seperti hilang ditelan kesadaran. Bukan karena minuman keras atau apapun itu, tapi karena jiwa yang bergejolak terombang-ambing dikolam. Mungkin ini semua semu dalam anganku saja, membiarkannya lepas menjadi sebuah pilihan yang paling tepat. Mengagumi saja sudah cukup, bukan untuk menyentuh sekarang. Aku tidak pernah tau apa yang akan terjadi setelah ini, dan hanya waktulah yang akan membimbingku hingga pada suatu keadaan jelas.

Kesimpulan siang ini diantara gedung –gedung bertingkat itu adalah semu. Hidup itu nyata hanya didetik ini, dan semu di detik berikutnya. Seperti tulisan ini, semu tanpa ada efek nyata.

 

Iklan