PPKAB menyusuri kehidupan liar hutan Indonesia

Sodara-sodara sekalian yang berbahagia… Sekedar share perjalanan Jelajak Konservasi ke PPKAB (Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol), Kebun Raya Cibodas, dan Taman Safari I.

Untuk menuju pintu masuk PPKAB kami harus berjalan kaki kurang lebih 1-2 jam dari tempat golf milik Bakrie yang seharusnya bisa ditempuh menggunakan ojek atau mobil jip 4×4. Karena kita berbanyak jadi ya jalan kaki aja biar menghemat biaya. Perjalanan melewati perkampungan yang cukup padat penduduk lalu disuguhi kebun-kebun milik warga sekitar sampai terlihat gerbang masuk hutan yang begitu rimbun. Hati-hati dalam perjalanan menuju pendopo milik PPKAB, karena saya bertemu dengan ular kobra (King Cobra tepatnya) dan langsung kabur demi keselamatan bersama. Hehe.

pemandangan selama perjalanan menuju pintu gerbang PPKAB

Sampai di gerbang PPKAB bagian dalam dengan ketinggian sekitar 800an mdpl kami sudah disuguhi para kawanan lutung yang sedang berjoget gangnam style (bukan lah, sedang loncat-loncat kegirangan lebih tepatnya. Tak lupa setelah perjalanan jauh harus menyempatkan foto-foto dulu (biar eksis gitu…).

Macan Tutul yang tertangkap kamera trap milik PPKAB

Primata yang terdapat di PPKAB

Disini kegiatan kami adalah mengamati primata-primata yang benar-benar wild. Tersedia lutung, owa jawa, surili, dan macaca. Tapi apa daya, kami hanya menjumpai lutung, owa jawa (bener-bener endemik), dan surili yang sedang berinteraksi dengan rekan-rekannya yang sejenis. Kabarnya disini ada 6 ekor macan tutul yang begitu seksi (suit… suit…), tapi sangat susah dijumpai secara langsung karena hanya terekam oleh video dan kamera trap yang terpasang.

Jika ingin lebih bisa menikmati pemandangan kanopi-kanopi yang tersedia, bisa naik keatas gardu pandang yang tersedia dengan 3 tingkat. Hati hati dengan kondisi sehabis hujan, karena banyak pacet yang siap menghisap darah kalian. Saya sudah membuktikan ciuman dari pacet yang begitu hot hingga tidak sadar darah sudah mengucur keluar.

Gardu pandang milik PPKAB

Hari kedua kami menyusuri sisi hutan yang benar-benar hutan alam yang indah itu dengan treking kurang lebih 3-4jam menuju air terjun. Dari membuka jalan hingga melihat video dan kamera trap yang terpasang harus kita lalui dengan senang hati. Sampai akhirnya bertemu dengan jejak macan tutul yang berupa cakaran pada pohon Puspa.

Setelah lelah perjalanan naik turun bukit kami bertemu dengan air terjun yang katanya tingginya hingga 40an meter. Begitu indah seperti melihat surga dunia apa lagi jika ada bidadari yang mandi disitu, tapi sayangnya bidadarinya lagi gak mandi disitu karena hari sudah siang. Air di situ begitu segar dan bisa langsung diminum tanpa harus dimasak terlebih dahulu, apa lagi sudah dingin jadi gak perlu pake esbatu dan tinggal dikasih sirup (sruputtt…). Air terjun ini sangat jarang dikunjungi manusia karena letaknya sekitar 5Km dari pendopo PPKAB. Sumpah disini benar-benar nyaman dan kalian kalo kesini bakal nemu inspirasi-inspirasi baru seiring tetesan air yang turun dari ketinggian 40an meter.

Airnya begitu menyegarkan

Perjalanan pulang ke basecamp bakal disuguhi hutan tanaman yang sudah tidak terpakai. Pohon-pohon pinus berjajar rapi seperti sedang upacara bendera. Setelah sampai di basecamp (pendopo PPKAB) kami sempatkan melakukan penanaman pohon. Untuk melestarikan lingkungan begitu.

Dan hari ketiga kami harus pulang menuju tempat selanjutnya…

Foto dulu di Air Terjun yang saya lupa namanya, yang jelas jarang banget dikunjungi manusia.

Sampai jumpa lagi para primata dan pemandu dari PPKAB yang gagah-gagah. Bakalan pengen balik kesini lagi untuk menjelajah hutan lebih dalam lagi hingga bertemu langsung dengan macan tutul yang seksi itu!