Malam Begitu Dingin

Hari-hari berlanjut dan berlanjut, dari awal hingga kembali keawal lagi. Inilah kenyataan kehidupan! Disaat kosong tanpa tau apa yang harus dilakukan, waktu terasa begitu cepat dan terbuang sia-sia. Dan ketika penuh sesak akan aktivitas dan misi-misikehidupan, waktu terasa begitu membunuh. Seperti berada dalam tumpukan kertas fotocopy yang siap untuk masuk kemesin dan akan segera diberi warna, selanjutnya dibuang dari teman-temannya.
Waktu menunjukan pukul 20.00, itu berarti pencetakan kehidupan mulai dimulai dalam hidupku. Menit demi menit aku nikmati bersama alunan musik jazz yang begitu menusuk lirik lagunya. Kubuka lembaran-lembaran kertas bergaris dan bertulisan, aku baca dengan seksama seperti seseorang baru pertama melihat barang baru dan asing. Mulai kusentuh kertas itu dengan perlahan dan ku bolak-balik sambil berpikir dalam-dalam.
Kertas kosong nan polos sudah siap untuk dilukis sebuah ilmu yang berat, ilmu yang berat akan tanggung jawab dan emosi jiwa. Kutulis dan kugerakan tanganku bersama jarinya. Kurasakan hari smekin larut dan larut hingga tak terasa matahari sudah berada tepat 180o diatasku. Udara dingin berasa seperti gigitan harimau yang sedang lapar, tulang seakan dibungkus oleh eskrim yang baru saja dikeluarkan dari mesin pendingin. Kain yang aku kenakan terasa seperti kulit tanpa balutan apapun. Seluruh badan dari ujung kaki hingga ujung rambut merasakan dinginnya malam-malam ini.
Hal ini aku rasakan setiap hari, sejak mejaku penuh akan tugas-tugas yang merengek untuk dikerjakan. Siangku pun tidak dapat kurasakan kesegaran, hanya saja rasa kantuk seperti memukuli mataku agar selalu terpejam ketika keadaan tenang dan membosankan. Ini bukan salah kalian, anda atau siapapun selain aku. Karena ini sudah menjadi kebiasaanku sekarang. Kebiasaan menghirup, memeluk, dan bergurau dengan MALAM DINGIN.